Gempa Berpotensi Tsunami di Ternate Semalam, Begini Analisis BMKG

Kompas.com - 08/07/2019, 09:55 WIB
Ilustrasi gempa.Shutterstock Ilustrasi gempa.

KOMPAS.com - Semalam, Minggu (07/07/2019) pukul 22.08 WIB, terjadi gempa tektonik dengan kekuatan signifikan di wilayah Laut Maluku Utara.

Hasil analisis awal oleh BMKG gempa ini berkekuatan M 7,1. Tapi selanjutnya dilakukan pemutakhiran oleh BMKG menjadi M 7,0.

Dalam siaran pers yang diterima Kompas.com, episenter gempa terletak pada koordinat 0,53 LU dan 126,18 BT. Tepatnya, di dasar laut pada kedalaman 49 km pada jarak 133 km arah barat Kota Ternate.

"Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal akibat adanya deformasi batuan dalam Lempeng Laut Maluku," ungkap Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Peringatan Dini Tsunami BMKG, Daryono.

Baca juga: Gempa M 7 Berpotensi Tsunami Guncang Ternate

"Gempa ini memiliki mekanisme sesar naik (thrust fault) akibat adanya tekanan/kompresi lempeng mikro Halmahera ke arah barat, dan tekanan lempeng mikro Sangihe ke arah timur," sambungnya.

Daryono menambahkan, akibat tekanan tersebut, Lempeng Laut Maluku terjepit dan terkompresi hingga memicu terjadinya patahan di bawah Punggungan Mayu (Mayu Ridge).

"Berdasarkan laporan masyarakat menunjukkan bahwa guncangan dirasakan di Bitung dan Manado dengan intensitas IV-V MMI (dirasakan oleh hampir semua penduduk, orang banyak terbangun), dan di Ternate III-IV MMI (dirasakan oleh orang banyak dalam rumah)," ujarnya.

"Hingga saat ini belum ada laporan dampak kerusakan yang ditimbulkan akibat gempa tersebut," tambah Daryono.

Hasil pemodelan BMKG semalam, gempa bumi ini berpotensi tsunami dengan status ancaman “waspada” untuk wilayah Minahasa Selatan dan Minahasa Utara bagian Selatan. 

Berdasarkan pemodelan tersebut, BMKG sempat mengeluarkan peringatan adanya potensi tsunami.

Selanjutnya, BMKG melakukan monitoring perubahan muka air laut pada 6 stasiun tide gauge di Bitung, Tobelo, Ternate, Taliabu, Jailolo, dan Sanana selama kurang lebih 2 jam. Lama waktu monitoring ini sesuai dengan standard operational procedure (SOP) yang berlaku.

Setelah dilakukan monitoring selama 2 jam, BMKG tidak menemukan adanya anomali muka laut.

"Maka peringatan dini tsunami diakhiri pada pukul 00.09 WIB tanggal 8 Juli 2019," tutur Daryono.

Baca juga: Gempa Hari Ini: Getarkan NTT dan Sulawesi Tenggara

"Hingga pukul 00.54 WIB, hasil monitoring BMKG menunjukkan adanya 19 aktivitas gempabumi susulan (aftershock)," imbuhnya.

Pria asal Semarang itu menambahkan, sehubungan dengan Peringatan dini tsunami telah dinyatakan berakhir maka bagi daerah yang mendapatkan peringatan dini tersebut dapat kembali ke rumah masing-masing.

"Selanjutnya tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya," tegasnya.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X