Kompas.com - 07/07/2019, 10:06 WIB
Anak autistik Anfield Wibowo (15) tengah melukis di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2019). KOMPAS.com/NIBRAS NADA NAILUFARAnak autistik Anfield Wibowo (15) tengah melukis di Bentara Budaya Jakarta, Jakarta Pusat, Sabtu (6/7/2019).

"Tadinya dia banyakan gerak, tapi dengan melukis, dia jadi banyak bercerita," kata Donny.

Seni sebagai terapi

Autisme atau gangguan spektrum autisme (autism spectrum disorder) adalah gangguan perkembangan otak yang mempengaruhi kemampuan individu dalam berinteraksi dengan orang lain. Individu dengan autisme seringkali mengalami kesulitan dalam mengekspresikan pemikiran dan berkomunikasi.

Kesenian, baik itu seni rupa maupun seni musik, dapat menjadi medium yang tepat bagi individu autistik untuk menyampaikan apa yang ada di dalam pikiran mereka.

"Kita biasa mendengar secara lisan berbagai macam ekspresi. Untuk maksud dan tujuan, sebagian besar dunia mendengar secara lisan," ," ujar Psikolog Maria Novitawati, M.Psi., Psi dalam diskusi Peranan "Art Therapy" dalam Perkembangan Individu Autistik untuk Mengekspresikan Dirinya di Bentara Budaya Jakarta, Sabtu.

"Tapi sering anak mendengar dengan matanya. Jadi dia mengungkapkan sesuatu yang dia ingin kita melihat tetapi tidak bisa mendengar karena kata-kata mereka terbatas," imbuhnya.

Maria juga mengungkapkan bahwa dalam kesehariannya, anak autistik yang terbiasa melakukan kegiatan seni lebih mampu meregulasi dirinya. Regulasi atau kontrol diri kerap kali jadi masalah anak autistik.

Baca juga: Perjalanan Kadek Arimbawa Mengobati Kecemasan Diri lewat Seni

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Sering kali anak masih jelek regulasinya, masih tantrum. Tapi kalau kita lihat art therapy, anak mengerjakan satu demi satu tahap, ini bisa meregulasi dirinya," kata Maria.

Sementara itu, Seniman Ipong Purnama Sidhi turut mengatakan bahwa dalam seni lukis, anak secara umum bisa meningkatkan sensor motoriknya.

"Melukis melatih ketelitian, genggaman tangan, itu secara fisik. Melukis juga membantu visualisasi perasaan dan ide-ide lewat proses ekspresi verbal," kata Ipong.

Menurut Ipong, secara kognitif, melukis membantu stimulasi mental, merangsang kreativitas, dan fokus. Melukis juga meningkatkan kemampuan memecahkan masalah dan pengorganisasian ide-ide serta gagasan.

"Misalnya ketika dia keluar garis, dia akan berpikir bagaimana cara menutup kesalahan itu," ujar Ipong.

Anda bisa melihat karya-karya Anfield di Instagram @anfieldwibowoart atau www.anfieldwibowo.com.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.