Kompas.com - 02/07/2019, 19:07 WIB
Petugas Manggala Agni Daops Dumai memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tanah gambut di wilayah Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau,  Selasa (14/5/2019). Dok. Manggala Agni Daops Dumai KOMPAS.com/IDON TANJUNGPetugas Manggala Agni Daops Dumai memadamkan api kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) tanah gambut di wilayah Kelurahan Teluk Makmur, Kecamatan Medang Kampai, Kota Dumai, Riau, Selasa (14/5/2019). Dok. Manggala Agni Daops Dumai

KOMPAS.com - Kebakaran hutan kembali melanda Indonesia. Tak hanya merusak lingkungan, kebakaran juga membawa ancaman kesehatan yang serius.

Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof. Dr. Ir. H. Bambang Hero Saharjo, M.Agr berkata bahwa gas kebakaran hutan bisa membuat janin yang masih dalam kandungan terlahir cacat.

"Bisa anaknya terlahir cacat, tidak ada tangan dan tidak ada kaki. Ini terjadi di Jepang," kata Bambang dalam jumpa pers di Jakarta Selatan, Selasa (2/7/2019).

Bambang mengutip penelitian Chelsea E Stockwell soal gas dan aerosol yang timbul akibat kebakaran hutan di Kalimantan Tengah pada 2015.

Baca juga: Kemarau Panjang, Waspadai Kebakaran Lahan dan Hutan

Menurut penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Atmospheric Chemistry and Physics pada 2016 tersebut, setidaknya ada 90 gas berbahaya dan sebanyak 50 persen diantaranya beracun ketika dihirup.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ada karbon dioksida, karbon monoksida, metana, ammonia, dan furan," ujar Bambang.

Gas-gas ini bisa menimbulkan berbagai penyakit pada saluran pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernafasan Atas (ISPA), asma, dan penyakit paru obstruktif kronik.

Senyawa furan sendiri diyakini berdampak buruk pada ibu hamil. Selain berpotensi membuat janin terlahir cacat, furan bahkan bisa mematikan janin.

Baca juga: Tak Hanya Gizi, Asap Kebakaran Hutan Juga Sebabkan Stunting

Selain itu, sebuah studi yang dipublikasikan dalam jurnal PNAS pada bulan Februari 2019 juga menemukan bahwa kebakaran hutan dapat menyebabkan stunting. Anak-anak dalam rahim yang terpapar oleh asap kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 1997 tumbuh menjadi lebih pendek 3,3 sentimeter dibanding yang seharusnya ketika mereka berusia 17 tahun.

Hal ini karena paparan udara beracun dapat menyaring oksigen janin dan menyebabkan perubahan permanen dan berat badan lahir rendah.

Bambang mencatat bahwa hingga Juli ini, kebakaran hutan sudah terjadi di Aceh, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara. Kemudian, ada juga di Riau, Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, dan Sumatera Utara.

Lalu, kebakaran juga sudah terjadi di Bangka Belitung, Bengkuli, Jambi, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Papua, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tengah.

"Bahkan di Jawa Timur juga sudah ada kebakaran hutan baru-baru ini," kata Bambang.



Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X