Kompas.com - 28/06/2019, 13:27 WIB
Belanda menyerah pada hari kelima serbuan tentara Nazi Jerman pada Mei 1940. Upaya perlawanan Belanda itu kelak dikenang dengan Slag om Nederland?Pertempuran Belanda. Framepool/Battle of the NetherlandsBelanda menyerah pada hari kelima serbuan tentara Nazi Jerman pada Mei 1940. Upaya perlawanan Belanda itu kelak dikenang dengan Slag om Nederland?Pertempuran Belanda.

Dalam upacara yang diiringi derap genderang, bendera merah-putih-biru setengah tiang itu dinaikkan sepenuhnya tepat pada pukul sepuluh malam, demikian ungkap Bijkerk. Acara peringatan keprihatinan atas nasib Belanda ini berlangsung lima hari.

Di Batavia, Gubernur Jenderal Jhr. Alidius Warmoldus Lambertus Tjarda van Starkenborgh Stachouwer dan istrinya menghadiri upacara penutupan peringatan keprihatinan itu di Sociëteit Concordia pada Rabu 14 Mei 1941. Acara penutupan itu mengumandangkan misa Requiem gubahan Wolfgang Amadeus Mozart yang dibawakan Bataviaanse Oratorium dan orkestra NIROM.

Baca juga: Surat Tahanan Auschwitz Ungkap Horor Pembunuhan Yahudi oleh Nazi

Suasana darurat perang sampai juga ke Hindia Belanda, demikian menurut gambaran Bijkerk. Perempuan itu juga mengungkapkan informasi yang tampaknya terlewat untuk dibeberkan kepada publik tentang sumbangan dana perang dari Hindia Belanda. “Jarang ada suatu rasa persatuan yang demikian eratnya.”

Warga Hindia Belanda, dari Sumatra sampai Ambon yang sejatinya juga serba kekurangan, turut berempati lewat sumbangan dana perang. Menurut catatan Bijkerk, semuanya terkumpul setidaknya sejumlah ƒ572.000. Dari jumlah tersebut, warga Ambon yang jumlahnya sedikit itu menyumbang hingga ƒ100.000, sementara Mangkunagara dan Susuhunan Pakubuwana di Surakarta masing-masing menyumbang ƒ15.000.

Bijkerk mengungkapkan dana sumbangan dari rakyat Hindia itu telah dibelanjakan untuk membuat 100 pesawat pemburu, 36 pesawat pembom, beberapa tank, dan sederet alutsista lainnya untuk pasokan Perang Dunia Kedua. “Kenyataannya adalah bahwa kaum inlander dengan pendapatan mereka yang kecil itulah yang sangat royal dalam bantuannya.”

Sepanjang 1941, tampak rasa keprihatinan bersama telah membungkus rasa persatuan di Hindia Belanda, antara pribumi dan Belanda. Barangkali, inilah kenangan manis dan terakhir di negeri koloni itu. Sampai-sampai “papan-papan dengan kata-kata Verboden voor honden en Inlander—Terlarang bagi Pribumi dan Anjing—mulai menghilang dari wajah kota,” tulis perempuan itu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Sejatinya sumbangan Hindia Belanda itu tidak hanya berbentuk uang seperti kisah Bijkerk, tetapi juga sumber daya alam. Pada masa 1940-1941, Hindia Belanda juga menggenjot produksi sumber daya alam mereka, seperti timah dan karet, yang dibutuhkan untuk memasok perlengkapan militer Amerika.

“Tetapi, tak ada yang sedikitpun menduga bahwa beberapa bulan lagi,” ungkap Bijkerk dalam bukunya, “Hindia Belanda yang telah cedera sulit untuk mengumpulkan dana guna pertahanannya sendiri.” (Mahandis Yoanata Thamrin)

Baca juga: Puing-puing Ini Beri Petunjuk Adanya Markas Misterius Nazi di Arktik

Tulisan ini terbit pertama kali di National Geographic Indonesia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.