Catatan Tua Ungkap Keprihatinan Orang Indonesia saat Hitler Kuasai Belanda

Kompas.com - 28/06/2019, 13:27 WIB
Belanda menyerah pada hari kelima serbuan tentara Nazi Jerman pada Mei 1940. Upaya perlawanan Belanda itu kelak dikenang dengan Slag om Nederland?Pertempuran Belanda. Framepool/Battle of the NetherlandsBelanda menyerah pada hari kelima serbuan tentara Nazi Jerman pada Mei 1940. Upaya perlawanan Belanda itu kelak dikenang dengan Slag om Nederland?Pertempuran Belanda.

KOMPAS.com - Jumat pagi, 10 Mei 1940. Seorang pemantau udara melihat pembom dari Luftwaffe Jerman terbang ke arah Laut Utara. Begitu melewati laut, pesawat itu berbalik arah menuju daratan Belanda dan melakukan serangan. Hari itu telah menandai terseretnya Belanda dalam pusaran Perang Dunia Kedua.

Sebelum Belanda menyerah, Ratu Wihelmina mengungsi ke Inggris. Pertempuran berkecamuk selama lima hari. Kemudian, orang-orang Belanda mengenang perjuangan mereka dengan "Slag om Nederland"— Pertempuran Belanda. Tentara Hitler menduduki Belanda sejak Mei 1940 hingga Mei 1945.

Bagaimana pandangan orang-orang negeri jajahan Belanda, khususnya bumiputra Hindia Belanda, tentang penaklukkan Nazi Jerman terhadap Kerajaan Belanda?

Ada catatan menarik dari B.J. Bijkerk, seorang asisten perawat Gemeente Ziekenhuis Juliana—kini Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung—yang mengungkapkan ekspresi warga bumiputra di Hindia Belanda saat peringatan setahun pendudukan Jerman atas Belanda. Catatan itu sampai pada kita karena Bijkerk menjadi salah satu penyintas bencana kapal tenggelam dan tawanan perang Jepang di Sumatra (tautan di bawah ini).

“Pada peringatan penyerbuan Jerman ke Nederland, pada tanggal 10 Mei 1941 orang-orang pribumi memenuhi masjid-masjid untuk berdoa khusus,” ungkap Bijkerk.

Dia berkisah bahwa pada peringatan setahun penyerbuan Jerman ke Belanda, Mangkunagara VII, yang bertakhta di Praja Kadipaten Mangkunegaran Surakarta, turut bersimpati. Sang Raja itu berkirab mengelilingi keraton bersama rakyatnya demi mendoakan keselamatan Ratu Wilhelmina dan Negeri Belanda.

Baca juga: Gigi Hitler Ungkap Kisah Asli Kematian Pemimpin Nazi

Kisah pengalamannya jelang tutupnya Hindia Belanda itu diterbitkan dalam buku bertajuk Vaarwel, Tot Betere Tijden pada 1974. Edisi berbahasa Indonesia diterbitkan penerbit Djambatan pada 1988. Banyak buku harian atau catatan semasa yang berkisah tentang masa-masa ketegangan jelang Jepang menaklukkan Hindia Belanda atau kesaksian para penyintas tawanan perang. Namun, sungguh jarang catatan semasa yang merekam kesaksian tentang timbang hati bumiputra ketika awal Perang Dunia Kedua mencengkeram Eropa.

Sejarah mencatat jalannya sumbu mesiu Perang Dunia Kedua, yang bermula saat penyerbuan Jerman ke Polandia pada 1939, pada akhirnya merembet juga ke Belanda. Pada Jumat, 10 Mei 1940, Nazi Jerman melancarkan serbuan ke Belanda. Empat hari kemudian negeri kincir angin itu resmi takluk. Ratu Wilhelmina, sebagai pemegang pemerintahan Kerajaan Belanda, pun mengungsi ke London, Inggris.

Dampaknya bagi Hindia Belanda, pemerintah segera memberlakukan undang-undang darurat perang dan membekukan berbagai pertemuan politik warganya. Jam sekolah diperpendek karena pasokan guru-guru dari Belanda terhenti karena perang. Ketika itu wajib militer menjadi hal yang utama ketimbang harus mengajar di Hindia Belanda.

Pembukaan peringatan setahun penyerbuan Jerman ke Belanda itu digelar pada Sabtu. Seluruh rakyat Hindia Belanda mengibarkan bendera setengah tiang, demikian kisah Bijkerk. KNIL dan pandu mengawal pengibaran bendera untuk peringatan itu. Karangan bunga bergerombol di sekitar tiang bendera. Bijkerk juga memerikan, “Wanita-wanita pribumi, yang berpakaian compang camping, meletakkan bunga di kaki tiang-tiang bendera.”

Halaman:


Sumber
Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Mundur dari ISS, Rusia Bakal Luncurkan Stasiun Luar Angkasa Sendiri

Oh Begitu
Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Keganasan Bisa Ular Bervariasi, Peneliti Ungkap Penyebabnya

Fenomena
Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Tapir Betina Masuk ke Kolam Ikan di Pekanbaru, Hewan Apa Itu?

Fenomena
Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Kopi Liar bisa Lindungi Masa Depan Minuman Kopi dari Perubahan Iklim

Fenomena
Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 4 Meter dari Aceh hingga Papua

Oh Begitu
63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

63 Gempa Guncang Samosir Sejak Januari 2021, BMKG Pastikan Gempa Swarm

Fenomena
Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Meneladani Kartini, Para Peneliti Perempuan Berjuang untuk Kemajuan Riset di Indonesia

Oh Begitu
Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Perbedaan Porang, Iles-iles, Suweg, dan Walur, dari Ciri hingga Manfaatnya

Oh Begitu
Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Jadi Penyebab Wafatnya Kartini, Angka Kematian Ibu di Indonesia Masih Tinggi

Oh Begitu
Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Polemik Usai Terbitnya Buku Kartini, Habis Gelap Terbitlah Terang

Oh Begitu
Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Cita-cita Kartini yang Tercapai Usai Kepergiannya

Kita
Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Korban Bencana NTT Dapat Bantuan Sebungkus Mi Instan dan 1 Butir Telur, Ahli Gizi Rekomendasikan 3 Makanan Bergizi

Oh Begitu
Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Asal-usul Nama Jepara, Berasal dari Kata Ujungpara hingga Jumpara

Oh Begitu
Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kisah Sitisoemandari Soeroto, Korbankan 4 Tahun Tuliskan Biografi Kartini

Kita
Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Hobi Mumikan Kucing, Apa Alasan Orang Mesir Kuno Lakukan Itu?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X