Temuan Baru, Sperma Beku Mampu Bertahan di Kondisi Mikrogravitasi

Kompas.com - 27/06/2019, 19:34 WIB
Ilustrasi sperma EraxionIlustrasi sperma

KOMPAS.com - Ada banyak hal yang perlu disiapkan sebelum akhirnya manusia dapat tinggal di luar angkasa. Salah satunya tentu saja soal reproduksi.

Peneliti pun terus melakukan studi untuk berbagai kemungkinan misalnya dengan mengirimkan contoh sperma. Hasil terbaru menunjukkan jika sperma yang dibekukan ternyata mampu bertahan di dalam kondisi mikrogravitasi seperti yang di temukan di luar angkasa.

Bereproduksi di luar angkasa menjadi sesuatu hal yang sulit dan berbahaya. Salah satu alasannya adalah adanya ancaman terhadap embrio yang ditimbulkan oleh radiasi kosmik.

Mikrogravitasi juga secara dramatis merusak sistem peredaran darah dan pernapasan. Hal inilah yang membuat para peneliti mencari solusi dengan cara reproduksi buatan.

Baca juga: Skandal Donor Sperma, Dokter Kesuburan Belanda Jadi Ayah 49 Anak

"Ada banyak penelitian menggunakan hewan dan jaringan serta sel lain pada manusia, tetapi sedikit yang diketahui tentang efek mikrogravitasi terhadap sel telur dan embiro," kata Montserrat Boada, peneliti di Dexeus Mujer, pusat kesehatan wanita di Barcelona, Spanyol dikutip dari Live Science, Senin (24/06.2019).

Untuk memahami bagaimana mikrogravitasi mempengaruhi sperma, Boada mengumpulkan sampel sperma dari 10 sukarelawan kemudian membekukannya.

Sampel kemudian diterbangkan dengan pesawat aerobatik untuk mensimulasikan penerbangan dengan wahana antariksa dan mendapatkan kondisi mikrogravitasi.

Setelah penerbangan, peneliti mencairkan sampel dan membandingkannya dengan sampel kontrol. Hasilnya tidak ada perubahan sampel sperma yang dibekukan setelah terpapar dengan mikrogravitsi.

Meski menjadi hasil yang mungkin akan jadi solusi, ternyata temuan ini masih diragukan oleh Joseph Tash, profesor dari University of Kansas Medical Center.

Tash berpendapat simpulan tersebut gagal mempertimbangkan realitas keamanan penggunaan sperma beku untuk reproduksi manusia. Termasuk juga kondisi wahana antariksa dengan mikrogravitasi dan radiasi.

Dia juga akan melakukan studi lagi sebagai perbandingan dan akan mempresentasikan pada November mendatang.

Sebelum keinginan terwujud untuk berkoloni di luar angkasa, manusia nampaknya harus kerja ekstra untuk memecahkan berbagai rintangan. Efek mikrogravitasi ini hanya satu dari sekian banyak persoalan yang harus dihadapi.

Studi sudah dipresentasikan Senin, (24/6/2019) di European Society of Human Reproduction and Embryology di Vienna.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X