Pria China Gagal Dikenali AI, Muka Terlalu Pasaran atau…

Kompas.com - 21/06/2019, 18:07 WIB
AI semakin umum digunakan di China. Dalam foto ini, AI merekam dan mengenali wajah para pengunjung 14th China International Exhibition on Public Safety and Security. NICOLAS ASFOURI / AFPAI semakin umum digunakan di China. Dalam foto ini, AI merekam dan mengenali wajah para pengunjung 14th China International Exhibition on Public Safety and Security.

KOMPAS.com – Belakangan ini, kita sering mendengar tentang keberhasilan teknologi kecerdasan buatan ( AI) pengenal wajah dari China.

Pada April tahun lalu, misalnya, teknologi ini membantu polisi China untuk menemukan buronan di antara 60.000 penonton konser. Lalu pada bulan yang sama, seorang pria China yang mengidap gangguan kejiwaan dan hilang selama setahun berhasil ditemukan kembali berkat teknologi pengenal wajah.

Namun, rupanya AI pengenal wajah juga sering gagal. Salah satu contohnya dilaporkan oleh Abacus News, Rabu (19/6/2019).

Seorang pria China yang bernama Wang gagal dikenali oleh sistem pengenal wajah untuk absensi yang digunakan oleh tempat kerjanya. Sistem itu mencocokkan wajah Wang ke rekan-rekan kerjanya, baik laki-laki maupun perempuan.

Apakah ini karena wajah Wang terlalu pasaran? Bisa jadi.

Baca juga: Universitas China Pakai AI untuk Cek Kehadiran, Tak Bisa Titip Absen

Namun, tidak sedikit netizen yang menjadi simpatik terhadap Wang karena pernah mendapat pengalaman serupa. Seorang netizen bahkan berkata bahwa di perusahaannya, karyawan laki-laki bisa titip “absen muka” ke karyawan perempuan.

Dalam beberapa tahun terakhir, akurasi sistem pengenal wajah memang telah jauh berkembang.

Studi oleh National Institute of Standards and Technology (NIST) dari Departemen Perdagangan AS menemukan beberapa alogaritma telah menjadi 20 kali lipat lebih baik dalam menjelajah database dan mengenali wajah daripada tahun 2014. Beberapa di antara perusahaan-perusahaan dengan alogaritma terbaik ini, seperti Yitu dan Megvii, berasal dari China.

Akan tetapi, NIST juga menemukan bahwa masih banyak alogaritma pengenal wajah yang ketinggalan dari pesaing-pesaingnya dan ketinggalan ini, bila dibandingkan dengan alogaritma terbaik, sangat-sangat jauh.

Selain itu, alogaritma yang ada sekarang pun masih belum dapat menghadapi beberapa tantangan alami, seperti foto berkualitas buruk, wajah yang telah menua dan wajah yang kembar. Ya, teknologi pengenal wajah sekarang masih kesulitan membedakan saudara kembar.

Kejadian yang dialami Wang ini pun kembali mengingatkan kita akan keterbatasan teknologi pengenal wajah.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X