Kompas.com - 18/06/2019, 19:06 WIB
Ilustrasi topi UV70/ShutterstockIlustrasi topi

KOMPAS.com – Rambut rontok dan kebotakan memiliki banyak penyebab. Salah satu yang paling sering disebut-sebut adalah kebiasaan memakai topi. Namun, benarkah sering memakai topi bisa membuat rambut menjadi rontok dan menyebabkan kebotakan?

Menurut Dr Hayley Goldbach, seorang dermatolog di UCLA Health yang sering mendapat pertanyaan ini, banyak orang mengaitkan topi dan kebotakan karena melihat orang-orang yang berusaha menutupi kebotakannya dengan memakai topi.

Namun, nyatanya Anda tidak perlu terlalu khawatir jika ingin memakai topi. Goldbach berkata bahwa topi yang terlalu sempit mungkin bisa menyebabkan iritasi dan peradangan pada folikel rambut; tetapi seharusnya topi tidak menjadi penyebab utama kerontokan rambut, melainkan salah satu faktornya.

Pendapat ini disetujui oleh Dr. Michael Wolfeld, seorang ahli bedah plastik yang berspesialisasi dalam bidang restorasi rambut dan Assistant Clinical Professor di  Mount Sinai Medical Center, New York.

Baca juga: Efek Samping Obat Anti-Botak Ini Mengganggu Ereksi

Dia berkata bahwa penyebab kebotakan bersifat multifaktorial. Terlalu kencang menarik rambut ke belakang, seperti memakai ikatan ekor kuda, bisa menyebabkan tekanan yang menarik folikel rambut. “Pada periode bertahun-tahun, tekanan ini bisa menyebabkan rambut rontok,” ujarnya.

Akan tetapi, kebanyakan orang tidak memakai topi sekencang itu untuk menyebabkan rambut rontok. Menurut Wolfeld, genetika jauh lebih berperan dalam menyebabkan kerontokan rambut daripada topi.

Pasalnya, kebotakan, baik pada laki-laki maupun perempuan, diawali dengan sensitivitas genetik terhadap hormon dihydrotestosterone (DHT) yang berada di kulit kepala dan bagian tubuh lainnya. Ketika bertemu dengan DHT, folikel rambut bereaksi dengan menyusut.

Itulah sebabnya, terapi anti kebotakan yang terbukti secara sahih, seperti finasteride, bekerja dengan menekan produksi DHT.

Baca juga: Seberapa Buruk Tidur dengan Rambut Masih Basah?

Namun, harus diakui bahwa bahan yang digunakan untuk membuat topi bisa menyebabkan kebotakan.

Dr Adam Friedman, profesor demartologi di George Washington University, mengatakan, jika topi menyebabkan reaksi alergi di kulit kepala, hal itu bisa menyebabkan peradangan yang berujung pada kerontokan rambut. Apalagi bila orang tersebut memang sudah memiliki bakat genetik untuk kebotakan, reaksi alergi terhadap topi bisa mempercepat prosesnya.

Kemudian pada kasus yang lebih langka, garam dari keringat yang menempel pada topi bisa mengiritasi kulit dan menyebabkan peradangan juga.

Akan tetapi, para ahli setuju bahwa pemakaian topi memiliki kemungkinan yang sangat-sangat kecil dalam menyebabkan kebotakan. Topi justru bisa melindungi kulit kepala dan wajah penggunanya dari kerusakan ultraviolet yang menurut Friedman harus lebih diperhatikan karena dapat menyebabkan kanker kulit.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Time
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Delapan Tahun Terakhir Jadi Tahun Terpanas di Bumi

Fenomena
Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Gunung Tonga Terus Dipantau Setelah Letusan Besar Sebabkan Tsunami

Fenomena
Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Waspada Ada Peningkatan Curah Hujan di Jabodetabek 3 Hari ke Depan

Fenomena
[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

[POPULER SAINS]: Gempa Megathrust Selat Sunda Memicu Tsunami | Gejala KIPI Vaksin Booster ] Jabodetabek Hujan Lebat

Oh Begitu
Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Mengenal Ular Pucuk, Ular yang Banyak Ditemukan di Permukiman

Oh Begitu
Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Gempa Vulkanik yang Pernah Terjadi di Indonesia

Fenomena
China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

China Luncurkan Roket Long March 2D sebagai Misi Pertama di Tahun 2022

Fenomena
Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Catat, Ini Daftar Vaksin Booster Homolog dan Heterolog

Oh Begitu
Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Asteroid Berukuran 2 Kali Empire State Building Lewat Dekat Bumi Hari Ini

Fenomena
Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Tak Hanya Covid-19, Eropa Diprediksi Akan Hadapi Twindemic, Apa Itu?

Fenomena
Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Tergolong Ringan, Ini Gejala KIPI Vaksin Booster yang Banyak Dilaporkan

Kita
Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Jabodetabek Masih Berpeluang Hujan Lebat Disertai Angin Kencang Malam Ini

Fenomena
Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Isyana Sarasvati Akui Kecanduan Kopi sejak Kuliah, Ketahui 8 Manfaat Minum Kopi

Kita
Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Gempa Indonesia: Mengenal Penyebab Gempa Bumi hingga Potensi Tsunami

Oh Begitu
Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Hari Ini, Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta Bisa Sebabkan Banjir

Fenomena
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.