Ini Hari Kebersihan Menstruasi, tetapi Kesadaran Kita Masih Rendah

Kompas.com - 28/05/2019, 19:35 WIB
Kampanye Manajemen Kebersihan Menstruasi yang bertajuk Aksi Remaja Untuk Peduli Menstruasi di Jakarta, Selasa (28/5/2019). Kampanye Manajemen Kebersihan Menstruasi yang bertajuk Aksi Remaja Untuk Peduli Menstruasi di Jakarta, Selasa (28/5/2019).

KOMPAS.com – Menstruasi adalah sesuatu yang dialami setiap bulannya oleh para wanita yang telah beranjak dewasa. Hal tersebut seharusnya menjadikan isu menstruasi sebagai pengetahuan umum yang dipahami oleh berbagai kalangan.

Namun, kenyataannya tidaklah demikian. Dalam kampanye Manajemen Kebersihan Menstruasi yang bertepatan dengan Menstrual Hygiene Day di Jakarta, Selasa (28/5/2019); terungkap bahwa informasi yang salah mengenai menstruasi, termasuk bagaimana seharusnya menangani kondisi tersebut, masih sering dijumpai.

Berdasarkan temuan studi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) yang dilakukan oleh Plan Internasional Indonesia pada tahun 2018 terhadap siswa SD dan SMP di Provinsi DKI Jakarta, NTT, dan NTB, terdapat 63 persen orangtua murid yang tidak memberikan penjelasan yang benar dan gamblang terkait menstruasi terhadap anaknya.

Sebanyak 45 persen di antaranya merasa tidak perlu menjelaskan kepada anaknya karena menganggap hal tersebut tidak pantas atau tabu.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Perut Kram saat Menstruasi?

Hal ini menimbulkan kepanikan pada anak perempuan, terutama saat pertama kali mengalami menstruasi. Di sisi lain, anak yang mengalami menstruasi juga rentan menjadi korban perundungan (bully) oleh kawan sebayanya, terutama anak laki-laki.

Kondisi ini dapat mengancam kesehatan reproduksi pada jangka panjang, karena mereka tidak mendapatkan edukasi mengenai bagaimana seharusnya menangani menstruasi.

Rata-rata, siswi yang tengah menstruasi memerlukan tiga kali pergantian pembalut per harinya, di mana salah satunya terjadi di sekolah.

Setelah membersihkan area kewanitaan, hendaknya mencuci tangan dengan sabun agar noda tidak menyerbar. Sisa pembalut yang telah terpakai pun harus dibungkus sebelum dibuang ke tempat sampah.

Sayangnya, hal demikian masih luput dari perhatian pihak sekolah, menurut hasil studi.

Baca juga: Ini Penjelasan Kenapa Payudara Suka Nyeri Saat Menstruasi

“Di daerah rural, anak-anak merasa risih mengganti pembalut di sekolah karena hanya ada satu toilet yang digunakan oleh ratusan siswa, sehingga ia pulang dan tidak melanjutkan sekolah,” ujar Silvi Devina dari Yayasan Plan Internasional Indonesia.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X