Kompas.com - 28/05/2019, 03:50 WIB

KOMPAS.com – Sebuah studi baru yang dipimpin oleh para peneliti dari University of York menemukan bahwa sungai-sungai di dunia telah terkontaminasi antibiotik melebihi batas aman. Bahkan, beberapa sungai ditemukan melampaui batas aman hingga 300 kali lipat.

Hasil studi yang dilaporkan dalam Environmental Toxicology and Chemistry di Helsinki, 27-28 Mei 2019 ini didapatkan setelah para peneliti menguji kandungan 14 jenis antibiotik umum pada sungai-sungai di 72 negara. Antibiotik didapatkan sudah mengontaminasi dua per tiga sungai yang diteliti.

Sungai yang kondisinya paling parah berada di Bangladesh, Kenya, Ghana, Pakistan dan Nigeria. Akan tetapi, negara-negara Asia dan Afrika pada umumnya melebihi batas aman.

Sebuah sungai di Bangladesh ditemukan mengandung metronidazole, antibiotik yang digunakan untuk menangani infeksi mulut dan kulit, 300 kali lipat dari batas aman.

Baca juga: Kebal Antibiotik, Bakteri Super Bakal Bunuh Jutaan Manusia pada 2050

Sementara itu, trimethoprim yang digunakan untuk menangani infeksi saluran kemih ditemukan di 307 dari 711 situs yang diuji, sehingga antibitiotik ini pun menjadi yang paling umum mengontaminasi.

Akan tetapi, bukan berarti sungai-sungai di negara-negara Amerika dan Eropa aman dari antibiotik. Situs-situs yang diuji menunjukkan kandungan antibiotik sudah melebihi batas aman.

Sungai Thames yang berada di Inggris, misalnya, ditemukan terkontaminasi oleh lima jenis antibiotik, termasuk ciprofloxacin pada kadar yang tiga kali lipat melebihi batas aman.

Menurut para peneliti, antibiotik bisa masuk ke sungai karena ikut terbuang bersama kotoran manusia dan hewan. Pada beberapa negara, para peneliti juga menemukan bahwa kontaminasi disebabkan oleh bocornya pengolahan air limbah dari produsen obat.

Baca juga: Pahami, Tak Semua Penyakit Butuh Antibiotik

Para peneliti merasa khawatir bila antibiotik di sungai dapat mendorong bakteri menjadi resisten terhadap pengobatan. Menurut perkiraan Persatuan Bangsa-bangsa, resistensi antibiotik dapat membunuh 10 juta orang pada 2050.

Menanggapi temuan ini, Professor Alistair Boxall dari York Environmental Sustainability Institute yang terlibat dalam studi berkata bahwa hasil studi membuka mata dan sangat mengkhawatirkan. Kontaminasi antibiotik rupanya telah meluas di sistem-sistem sungai seluruh dunia.

Menurut dia, para peneliti dan pembuat kebijakan telah mengetahui peran lingkungan alami dalam perkembangan resistensi antimikroba melalui studi-studi serupa. Namun, menyelesaikan masalah ini akan menjadi tantangan luar biasa yang membutuhkan investasi di bidang infrastuktur pengolahan limbah, regulasi yang lebih ketat dan pembersihan situs-situs yang sudah terkontaminasi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Apa Manfaat Rambutan untuk Kesehatan Jantung?

Oh Begitu
Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Susu Mana yang Paling Baik untuk Lingkungan?

Oh Begitu
Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Jenis-jenis Kelainan Darah dan Penyebabnya

Kita
Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Spesies Baru Kungkang Berkepala Mirip Kelapa Sempat Dikira Tidak Ada

Oh Begitu
Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Bagaimana Cara Semut Merayap di Dinding dan Melawan Gravitasi?

Prof Cilik
Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Sama-sama Hitam dan Putih, Apa Bedanya Puffin dengan Penguin?

Oh Begitu
Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Apa Warna Bulan yang Sebenarnya?

Oh Begitu
Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Kenapa Hiu Takut terhadap Lumba-lumba?

Oh Begitu
Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Spesies Baru Kungkang Ditemukan, Kepalanya Mirip Kelapa Dikupas

Oh Begitu
Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Apa Manfaat Kupu-kupu dalam Ekosistem?

Oh Begitu
Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Burung Pengicau Berwarna Mencolok Berisiko Punah Lebih Cepat

Oh Begitu
Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Jumlah Darah dalam Tubuh Manusia

Kita
5 Objek Paling Terang di Tata Surya

5 Objek Paling Terang di Tata Surya

Oh Begitu
Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Orang Suku Maya Kuno Makan Cokelat, Tidak Hanya untuk Persembahan Dewa

Fenomena
Trenggiling Makan Apa?

Trenggiling Makan Apa?

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.