Ada Sejak Lama, Begini Rasa Menaiki dan Tarif Kereta Sleeper Pada 1967

Kompas.com - 27/05/2019, 21:50 WIB
PT Kereta Api Indonesia mengoperasikan empat kereta sleeper terbaru, Luxury 2, Minggu (26/5/2019). KOMPAS.com/AMBARANIE NADIA KEMALAPT Kereta Api Indonesia mengoperasikan empat kereta sleeper terbaru, Luxury 2, Minggu (26/5/2019).

KOMPAS.com - Minggu terakhir bulan puasa sudah di depan mata. Seperti tradisi tahun-tahun sebelumnya, kebanyakan masyarakat Indonesia melakukan mudik atau pulang ke kampung halaman.

Di antara banyaknya pilihan moda transportasi untuk mudik, salah satu yang paling banyak dibicarakan adalah sleeper train atau kereta dengan model khusus agar penumpang bisa dalam posisi tidur.

Meski diangap baru, sebenarnya Indonesia telah lama memiliki kereta sleeper. Lalu, apa bedanya dengan sleeper train terbaru?

Bagaimana pula rasa menumpang kereta sleeper jaman dahulu? Berikut ceritanya...

Baca juga: Gen untuk Tidur Siang Memang Ada, Para Peneliti Membuktikannya

Pada 27 Mei 1967, reporter harian Kompas berkesempatan mengikuti perjalanan percobaan pertama daripada kereta api ekspres malam, bersama rombongan yang beranggotakan menteri perhubungan, direktur utama PNKA, sekjen Lembaga Pariwisata Nasional, pejabat-pejabat dari perwakilan-perwakilan negara-negara sahabat dan wakil-wakil perusahaan-perusahaan yang sedikit banyak bersangkut paut dengan dunia pengangkutan dan pariwisata, seperti perusahaan penerbangan perkapalan, travel bureaux dan tak lupa pula golongan pemberitaan.

Untuk peristiwa pembukaan ini, kami melihat bahwa stasiun kota diliputi suasana ramai. Stasiun kota sebenarnya memeng paling megah di antara stasiun-stasiun ibukota, tetapi karena letaknya agak jauh dari pusat-pusat perumahan yang makin lama makin menyebar maka kemegahannya ini kurang dapat dimanfaatkan.

Memang cocok sekali stasiun ini melayani tiba dan berangkatnya penumpang-penumpang kereta api, cukup kita ingat akan dua belas peronnya dan ruang lobinya yang luas.

Sebagaimana biasa acara dimulai dengan sambutan-sambutan. Bedanya adalah bahwa pidato-pidato itu ditekankan pada singkat-padatnya dan juga sudah jauh lebih jujur daripada zaman Orde Lama.

Ir Imam Subarkah, Dirut PNKA mengetahui bahwa kereta-kereta ini adalah hasil pesanan Orde Lama, tetapi kita sudah terlanjur memilikinya dan sekarang akan memanfaatkannya sebaik-baiknya.

Ditekankan pula bahwa hal yang sudah biasa dilupakan tetapi kini mutlak harus kita perhatikan adalah masalah maintenance atau pemeliharaannya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X