Kasus Cacar Monyet di Singapura, Pakar UGM Imbau Warga Indonesia Tak Khawatir

Kompas.com - 15/05/2019, 20:27 WIB
Petugas Kesehatan Karantina Bandara Soekarno Hatta melakukan pemeriksaan acak suhu badan penumpang yang baru mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (14/5/2019). Pemeriksaan acak dilakukan untuk mewaspadai adanya penumpang yang terjangkit virus cacar monyet (monkeypox), bagi penumpang yang tiba dari penerbangan Singapura dan Afrika. MUHAMMAD IQBALPetugas Kesehatan Karantina Bandara Soekarno Hatta melakukan pemeriksaan acak suhu badan penumpang yang baru mendarat di Terminal 3 Bandara Soekarno Hatta, Tangerang, Banten, Selasa (14/5/2019). Pemeriksaan acak dilakukan untuk mewaspadai adanya penumpang yang terjangkit virus cacar monyet (monkeypox), bagi penumpang yang tiba dari penerbangan Singapura dan Afrika.

KOMPAS.com - Beberapa hari terakhir, kabar mengenai kasus cacar monyet atau Monkeypox di Singapura menghiasi media massa. Bahkan, kasus ini sempat membuat panik warga Indonesia karena ditakutkan masuk ke negara kita.

Menanggapi hal ini, pakar biokimia dan biologi molekuler dari Universitas Gadjah Mada (UGM) mengimbau masyarakat tidak perlu khawatir.

Profesor Wayan Tunas Artama, koordinator One Health Collaborating Center (OHCC) UGM menyebut bahwa masyarakat Indonesia tidak perlu takut dengan penyebaran cacar monyet ini. Hal itu karena penyakit ini kurang lebih serupa dengan cacar pada manusia yang disebabkan oleh smallpox.

Wayan menyebut kemiripan tersebut tampak dari gejala muncul dan angka kematian yang disebabkannya.

Baca juga: Cacar Monyet Belum Ditemukan di Indonesia, Bagaimana Menghindarinya?

"Gejala yang muncul mirip seperti penderita cacar tapi lebih ringan. Hal itu seperti demam, sakit kepala, nyeri otot, dan berlanjut dengan benjolan kecil ke seluruh tubuh," ungkap Wayan.

"Angka kematian penyakit ini juga serupa, yakni berkisar 1 sampai 10 persen. Serta kematian yang terjadi juga biasanya lebih banyak pada penderita yang berumur relatif muda," sambung dosen Fakultas Kedokteran Hewan ini.

Lebih lanjut, Wayan menyatakan penularan penyakit cacar monyet ke manusia ditransmisikan melalui berbagai jenis satwa liar, seperti primata dan hewan pengerat.

Sementara penularan dari manusia ke manusia sangat jarang terjadi.

"Seseorang dapat terjerat penyakit ini karena kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, kulit, dan cutaneus lesion dari satwa liar yang terinfeksi oleh virus ini," kata Wayan.

"Sementara penularan melalui manusia bisa terjadi karena kontak langsung dengan saluran pernafasan, kulit yang mengandung cairan cacar atau cairan lain dari pasien. Namun, kasus antar manusia masih jarang ditemukan. Bahkan, kejadian di Afrika bisa terjadi karena pola makan bushmeat dari masyarakat di sana," sambungnya.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X