Wajah Bulan Dihantam Meteorit Kecil saat Supermoon, Begini Dampaknya

Kompas.com - 05/05/2019, 20:14 WIB
Sebuah meteorit menghantam bulan selama gerhana bulan total pada Januari 2019, terlihat di sini sebagai kilatan terang. Sebuah meteorit menghantam bulan selama gerhana bulan total pada Januari 2019, terlihat di sini sebagai kilatan terang.

KOMPAS.com - 21 Januari 2019, kita melihat fenomena supermoon atau bulan purnama total yang indah. Namun tahukah Anda, di saat bersamaan sebenarnya permukaan bulan dihantam meteorit?

Kejadian meteorit menghantam bulan itu menimbulkan kilatan cahaya singkat, dan beruntung para astronom di belahan bumi utara, tepatnya di kawasan Spanyol Selatan, berhasil mengabadikannya.

Setelah hampir empat bulan dipelajari, para astronom profesional berhasil memperkirakan seberapa keras hantaman meteorit terhadap bulan dan apa dampaknya.

Baca juga: Ingat, Sepanjang Malam Besok Supermoon akan Hiasi Langit Indonesia

Menurut studi yang terbit di jurnal Monthly Notice of the Royal Astronomical Society edisi (30/4/2019), meteorit itu memiliki berat sekitar 45 kilogram dan berdiameter 30 sampai 60 sentimeter. Meski berukuran kecil, dia bisa melaju dengan kecepatan 61.000 kilometer per jam.

Batuan kecil yang melesat dengan sangat cepat ini berhasil menciptakan kawah baru di bulan yang luasnya sekitar 15 meter.

Melansir Live Science, Rabu (1/5/2019), kesimpulan tersebut didapat setelah tim mempelajari flash dampak singkat yang berlangsung hanya 0,28 detik dengan Sistem Deteksi dan Analisis Dampak Bulan atau teleskop MIDAS.

Dengan mempelajari kilatan dan panjang gelombang cahaya, para ahli dapat memperkirakan suhu tabrakan yang mencapai 5.400 derajat Celsius, atau setara dengan panas permukaan matahari.

Berdasarkan suhu dan durasi kilatan cahaya, tim kemudian menghitung kecepatan meteorit, besar, berat, dan dampak yang ditimbulkan. Selain mengukur hal tersebut, para ilmuwan juga berhasil memperkirakan energi ledakan meteorit setara dengan 1,65 ton TNT.

Hantaman meteorit ke permukaan bulan adalah hal yang cukup sering terjadi.

Menurut studi tahun 2016 di jurnal Nature, ada sekitar 140 kawah baru di permukaan bulan berukuran 10 meter setiap tahunnya.

Karena bulan tidak memiliki atmosfer, batu ruang terkecil juga dapat membuat dampak signifikan pada permukaan bulan.

Baca juga: Memahami Hilal dan Metode Rukyah, Penanda Awal Bulan Ramadhan

Menangkap dampak bulan di tengah gerhana bulan total adalah peristiwa langka bagi para peneliti seperti tim MIDAS, dengan spesialisasi  mempelajari peristiwa yang sering terjadi dan tidak dapat diprediksi ini.

"Pemahaman yang lebih baik tentang dampak bulan dapat membantu melindungi gelombang astronot berikutnya yang kembali ke bulan di masa depan," tulis para peneliti dalam penelitian tersebut.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Ternyata Sebelum Ada Oksigen, Makhluk Hidup di Bumi Menghirup Arsenik

Fenomena
Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kematian Dokter Gigi akibat Covid-19 Meningkat, Begini Protokol Periksa Gigi

Kita
BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

BMKG Dukung Mekanisme Riset Potensi Tsunami ITB dan Kajian Sebelumnya

Kita
BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

BMKG: Hingga Besok, Waspada Potensi Gelombang Tinggi Capai 6 Meter

Fenomena
Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Misteri Menghilangnya Virus Mematikan dari Cacar Zaman Viking sampai SARS

Fenomena
Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Orang Tanpa Gejala dan Bergejala Covid-19 Memiliki Jumlah Virus Sama

Oh Begitu
Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Kematian Akibat Covid-19, Data Terbaru IDI Ungkap 228 Tenaga Kesehatan Meninggal Dunia

Oh Begitu
Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Gumpalan Merah Misterius di Pantai Washington, Mungkinkah Gurita?

Fenomena
BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

BMKG: Potensi Tsunami 20 Meter untuk Dorong Mitigasi, Bukan Picu Kepanikan

Oh Begitu
Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Peneliti Ungkap Kromoson Y pada Pria Tak Hanya Mengatur Fungsi Seksual

Oh Begitu
Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Gurun Sahara Pernah Hijau, Bisakah Surga Itu Kembali Lagi?

Fenomena
Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Semprotan Hidung Bisa Hentikan Replikasi Virus Corona, Ilmuwan Jelaskan

Fenomena
Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Mengenaskan, Penguin Ditemukan Mati karena Telan Masker N95

Oh Begitu
Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Pandemi Covid-19, Simak 10 Tips Aman Bersepeda agar Tak Kena Corona

Oh Begitu
Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Covid-19 di Indonesia Belum Terkendali, Ini yang Harus Kita Lakukan

Kita
komentar di artikel lainnya
Close Ads X