Tersimpan di Laci Museum 40 Tahun, Keberadaan Singa Raksasa Terungkap

Kompas.com - 22/04/2019, 10:02 WIB
Spesies baru mamalia raksasa berhasil diidentifikasi setelah peneliti menyelidiki tulang-belulang yang disimpan selama beberapa dekade di laci museum Kenya. Spesies baru mamalia raksasa berhasil diidentifikasi setelah peneliti menyelidiki tulang-belulang yang disimpan selama beberapa dekade di laci museum Kenya.


KOMPAS.com - Fosil yang tersimpan beberapa dekade di dalam laci sebuah museum Kenya baru saja diidentifikasi para ilmuwan, dan ternyata itu merupakan spesies baru mamalia raksasa.

Spesies itu, dijuluki "Simbakubwa kutokaafrika" yang berarti singa besar Afrika di Swahili. Para ahli memperkirakan makhluk ini berkeliaran di benua Afrika wilayah timur sekitar 20 juta tahun silam.

Namun demikian, makhluk berukuran besar ini merupakan bagian dari kelompok mamalia yang saat ini sudah punah yang disebut hyaenodonts.

Baca juga: Punya Gigi Unik, Spesies Kera Purba Baru Ditemukan di Indonesia

Penemuan ini dapat membantu menjelaskan apa yang terjadi pada kelompok mamalia ini.

Hyaenodonts - disebut demikian karena giginya mirip dengan hyena modern - adalah karnivora dominan lebih dari 20 juta tahun yang lalu, demikian laporan National Geographic.

Tetapi mereka tidak terkait sama-sekali dengan hyena.

"Melihat ukuran giginya yang besar, Simbakubwa adalah hyper-carnivore spesial yang secara signifikan lebih besar dari singa modern dan mungkin lebih besar dari beruang kutub," kata peneliti Matthew Borths seperti dikutip oleh kantor berita AFP.

Fosil gigi dari spesies baru singa raksasa. Fosil gigi dari spesies baru singa raksasa.
Pada 2013 dia melakukan penelitian di Musium Nasional Nairobi ketika dia meminta untuk melihat isi koleksi berlabel "hyena".

Rahang, tulang-belulang, serta gigi makhluk itu disimpan di musium tersebut setelah ditemukan di sebuah penggalian di Kenya bagian barat pada akhir 1970-an.

Borths bekerja sama dengan peneliti lain, Nancy Stevens, dan pada 2017 mereka mulai menganalisis spesimen fosil yang tidak biasa tersebut.

Temuan mereka dilaporkan dalam Jurnal Vertebrate Paleontology pekan ini.

Baca juga: Penjelajah Temukan Balon Hidup di Palung Jawa, Spesies Baru?




Close Ads X