Meretakkan Leher Hingga Berbunyi "Krek", Perempuan Inggris Lumpuh

Kompas.com - 20/04/2019, 18:36 WIB
ilustrasi meretakkan leher hingga berbunyi krek ilustrasi meretakkan leher hingga berbunyi krek

KOMPAS.com - Tak bisa dipungkiri meretakkan tangan, punggung, atau leher hingga berbunyi "krek" adalah hal yang melegakan. Namun, siapa sangka ada bahaya yang tersimpan dari kebiasaan tersebut.

Hal ini dialami oleh Natalie Kunicki, seorang paramedis berusia 23 tahun di Inggris. Dia meretakkan lehernya untuk melakukan peregangan ketika menonton film di tempat tidur dengan temannya.

Kebiasaan ini sering dilakukan oleh Kunicki tanpa masalah apapun sebelumnya. Namun, pada malam 4 Maret 2019 itu berbeda.

15 menit setelah meretakkan lehernya, dia ke kamar mandi tapi mendadak perempuan itu tak bisa menggerakkan kaki kirinya.

Baca juga: Habis Pijat, Kenapa Jari Tangan Bunyi Krek-Krek ketika Ditarik?

Dia kemudian dilarikan ke rumah Sakit Univerity College London (UCL). Di sana, dokter menemukan bahwa retakan leher Kunicki pada malam itu telah merusak arteri vertebralisnya.

Arteri vertebralis adalah salah satu arteri utama di leher. Akibat retakkan leher "sederhana" itu, tercipta gumpalan darah yang memicu stroke dan menyebabkan kelumpuhan di tubuh bagian kiri Kunicki.

Menurut John Hopkins Medicine, ketika seseorang meretakkan leher, punggung, atau jari mereka, bunyi itu berasal dari "gelembung" nitrogen di dalam kapsul yang melindungi persendian atau ligamen saat mereka meregangkan dan membenturkan kembali ke tempatnya.

Pada kebanyakan kasus, kebiasaan ini tidak berbahaya. Namun jika bunyi itu dirasakan oleh rasa sakit atau bengkak, bisa jadi ada indikasi cedera dan perlu perhatian medis.

Dr Robert Glatter, dokter darurat di Lenox Hill Hospital, New York City menyebut bahwa secara umum retakkan leher perlu dihindari karena bisa menyebabkan pecahnya dinding pembuluh darah kritis yang memasok darah ke otak.

"Robekan di dinding pembuluh darah dapat menyebabkan stroke jika gumpalan darah terbentuk di lokasi cedera, dan kemudian pecah dan memnlokir aliran darah ke otak," ungkap Glatter dikutip dari Live Science, Jumat (19/04/2019).

Tak hanya itu, menurut Glatter, meretakkan leher juga dapat merusak saraf, ligamen, dan tulang.

Dalam kasus Kunicki, dia bahkan tidak berusaha untuk meretakkan lehernya.

"Saya baru saja bergerak, dan itu (bunyi krek) terjadi," katanya kepada situs berita Inggris Unilad.

Baca juga: Bunyi Gemeretak Tulang Saat Latihan, Bahayakah?

Ahli bedah Kunicki mampu memperbaiki arteri yang rusak, meskipun mereka tidak dapat menghilangkan bekuan darah yang terbentuk. Meski begitu, gumpalan darah itu diperkirakan akan larut seiring waktu tanpa menyebabkan kerusakan lebih lanjut.

Dengan kata lain, kelumpuhan Kunicki bertahan pada minggu-minggu setelah operasi saja. Setelah satu bulan menjalani terapi fisik, Kunicki telah mendapatkan kembali beberapa gerakan di anggota badan dan jari-jarinya, meskipun dia masih menghadapi bulan rehabilitasi.

"Benar-benar tidak ada cara 'aman' untuk meretakkan leher Anda," kata Glatter.

"Sederhananya, yang terbaik adalah menghindari melakukannya sejak awal, untuk menghindari kemungkinan komplikasi," tegasnya.




Close Ads X