Ketika Racun Laba-laba Mematikan Jadi Penyelamat Nyawa Penderita Stroke

Kompas.com - 19/04/2019, 10:32 WIB
Ilustrasi stroke shutterstockIlustrasi stroke

KOMPAS.com - Pakar biokimia di Australia mengatakan racun laba-laba yang berbahaya dapat memberikan kesempatan hidup lebih baik bagi pasien penderita stroke.

Mereka menemukan bahwa neurotoxin pada laba-laba di Pulau Fraser mengandung molekul yang dapat menghambat efek stroke di otak.

Gigitan seekor laba-laba yang berasal dari Pulau Fraser itu dapat membunuh orang dalam 15 menit. Meski begitu, racun itu juga dapat menyelamatkan nyawa dan telah digunakan untuk mengembangkan obat-obatan guna mencegah kerusakan otak.

Para ilmuwan mengatakan racun itu dapat mematikan jalur yang memicu matinya sel-sel di otak pasca-stroke.

Baca juga: Bagaimana Stres Bisa Menyebabkan Stroke? Dokter Jelaskan

Ilmuwan di Universitas Queensland yakin ini adalah terobosan yang dapat melindungi pasien stroke ketika dibawa ke rumah sakit. Dokter sering mengungkapkan tentang "jendela" atau masa waktu sangat penting sekitar 4,5 jam untuk memberi perawatan dan obat yang tepat pada pasien stroke.

Mereka yang tinggal jauh dari rumah sakit dapat menghadapi konsekuensi sangat buruk.

Tim peneliti itu yakin obat-obatan yang dikembangkan dari racun laba-laba ini dapat diberikan segera oleh paramedis, dan melindungi pasien dari kerusakan otak lebih jauh pasca stroke.

Kepala tim ilmuwan ini, Profesor Glenn King, mengatakan, "Ternyata ada saluran ion yang kecil di bagian syaraf yang disebut sebagai saluran ion penginderaan asam, yang dapat melacak penurunan PH asam di dalam otak. Saluran ini menghidupkan dan mematikan jalur sel kematian karena beberapa alasan yang tidak kita pahami dan jaringan syaraf mulai mati."

" Racun laba-laba Pulau Fraser dapat menjadi penghambat saluran itu sehingga mencegah matinya jaringan syaraf. Kita tidak dapat menghentikan syaraf yang akan mati, tetapi racun laba-laba yang diberikan hingga delapan jam setelah stroke masih dapat melindungi otak," sambungnya.

Laba-laba unik ini hidup di Pulau Fraser, di negara bagian Queensland, Australia. Ia hidup di sarang-sarang di bawah tanah dan pasir.

Masih perlu uji klinis lebih jauh untuk memastikan racun laba-laba ini, tetapi tim itu mengatakan eksperimen dengan tikus terbukti berhasil.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan stroke adalah pemicu kematian kedua terbesar di dunia, dan penyebab utama ketiga yang menimbulkan kecacatan.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X