Jawaban Atas Maraknya Perundungan, Ini Kata Peneliti

Kompas.com - 15/04/2019, 20:35 WIB
IlustrasiKOMPAS.com/LAKSONO HARI W Ilustrasi

KOMPAS.com – Menyeruaknya kasus perundungan yang menimpa AD, remaja 14 tahun di Pontianak menyulut perang tagar dengan narasi dan kontra-narasi yang memenuhi media sosial. Kasus ini juga menyadarkan kita akan pentingnya pendidikan karakter, terutama bagi anak dan remaja.

Situasi masyarakat saat ini dikenal dengan era post-truth, di mana berita bohong bebas berseliweran dengan berita benar, kesadaran saring sebelum sharing rendah, serta dipenuhi warganet yang begitu reaktif dan menghakimi.

Keberadaan pendidikan karakter dapat meningkatkan tingkat empati sosial serta literasi digital anak, sehingga menciptakan ruang komunikasi di masa depan yang sehat dan tidak reaktif seperti sekarang ini.

Lantas, bagaimana seharusnya pendidikan karakter ini diterapkan?

Baca juga: Kasus Kekerasan Siswi SMP di Pontianak dari Kacamata Psikologi Remaja

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa terdapat masalah dalam ekosistem pendidikan saat ini.

“Pendidikan kita punya banyak jargon dan aturan, namun dalam segi implementasinya bermasalah,” tutur Anggi Afriansyah, Peneliti Pendidikan Pusat Penelitian Kependudukan LIPI, dalam diskusi “Ada Apa dengan Remaja? Berkaca dari Kasus Perundungan di Era Digital” di Jakarta, Senin (15/4/2019).

Menurut Anggi, tujuan pendidikan saat ini hanya ideal di atas kertas, di mana tujuannya adalah untuk membentuk insan yang cerdas, pandai, bertalenta, rajin, berkarakter baik, dan berahklak mulia.

Anggi beranggapan bahwa paradigma ini kurang tepat karena tidak memanusiakan individu, namun memaksanya menjadi “malaikat”.

Pemahaman filsafat dari Romo Driyarkaya menjelaskan bagaimana seharusnya pendidikan memanusiakan individu, yakni membantu seseorang menjadi manusia lewat memahami jati diri, menempatkan diri dalam situasi apapun, mengambil sikap, menentukan nasib sendiri dan membantu individu menyelami dunianya.

“Model ini memberi konteks dan mengenalkan konsekuensi bagi siswa”, ujar Anggi.

Baca juga: Tangkal Cyber-bullying, Sistem Baru Ini Lebih Cepat dan Akurat

Anggi juga menambahkan soal pentingnya menerapkan pemahaman perspektif yang berbeda pada siswa.

“Siswa kalangan atas yang selalu difasilitasi selama ini akan merasakan tekanan berat saat tiba-tiba mengalami masalah. Kita harus membuatnya mengenal bahwa ada orang yang mengalami kesulitan lebih berat,” paparnya.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X