Bayi Yunani Lahir dari Persatuan Dua Ibu dan Satu Ayah, Kok Bisa?

Kompas.com - 12/04/2019, 20:30 WIB
Tampilan close-up pengamatan mikroskop dalam proses pembuahan bayi tabung. THINKSTOCKS/MIDO SEMSEMTampilan close-up pengamatan mikroskop dalam proses pembuahan bayi tabung.

KOMPAS.com – Mungkinkah seorang bayi mewarisi DNA dari tiga orang yang berbeda?

Prosedur in vitro fertilization (IVF) alias bayi tabung eksperimental terbaru dapat menyediakan jawabannya. Seorang bayi laki-laki dengan berat badan 2,9 kg, dilahirkan di Yunani pada Selasa (9/4/12), dengan tiga donor DNA.

Prosedur IVF ini dikenal dengan istilah donasi mitokondria, yang melibatkan sel telur dari ibu, sperma dari ayah, serta mitokondria dari donor wanita lain.

Sebagian besar DNA seseorang, sekitar 99,8 persen, terletak pada 23 pasang kromosom yang terlindungi dalam nukleus tiap sel tubuh. DNA ini berasal dari sel telur dan sperma yang didapat dari kedua orang tua.

Baca juga: DNA Hiu Putih Bisa Jadi Petunjuk Penting Pengobatan Kanker Manusia

Namun di samping itu, terdapat pula secuil DNA yang tersimpan dalam mitokondria, organel yang berperan sebagai baterai sel.

Dalam teknik donasi mitokondria ini, mitokondria ibu dalam sel telur digantikan oleh mitokondria donor, sehingga anaknya mendapatkan sumbangan DNA dari selain kedua orang tuanya.

Donasi mitokondria pertama kali dilegalkan di Inggris pada tahun 2015, namun sejauh ini belum ada negara yang mengeluarkan izin penggunaan teknik ini. Tercatat, hanya ada satu kasus aplikasi donasi mitokondria, namun tidak berhasil.

Kelahiran bayi di Yunani ini adalah kali pertama keberhasilan donasi mitokondria.

Prosedur ini semula direncanakan untuk mencegah pewarisan kelainan mitokondria dari ibu ke anaknya. Kelainan ini dapat mengakibatkan gangguan metabolisme pada anak.

Baca juga: Dua Bayi Kembar di China Punya Ayah Biologis Berbeda, Kok Bisa?

Namun, dokter di balik prosedur eksperimental ini mengklaim bahwa donasi mitokondria dapat mengatasi masalah terkait fertilitas.   

Klaim tersebut tentunya memicu perdebatan dan kontroversi di kalangan peneliti.

“Resiko penggunaan teknik ini belum diketahui secara pasti, meski mungkin diperbolehkan untuk penanganan kelainan mitokondria, namun tidak dalam situasi ini”, papar Tim Child, profesor dari University of Oxford sekaligus direktur medis dari Fertility Partnership, dilansir dari The Guardian, Kamis (11/4/2019).

“Tanpa adanya studi yang didesain secara ketat dengan menggunakan kontrol, tidak dapat dipastikan bahwa teknik ini memiliki dampak positif bagi pasien”, tutupnya.

Baca juga: Fetus in Fetu Muncul Lagi, Bayi di Columbia Lahir Mengandung Janin

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X