Dikirim ke Antariksa, Tikus-tikus Ini Bingung dan Lari-lari di Kandang

Kompas.com - 12/04/2019, 19:01 WIB
Ilustrasi tikusFrancisco Martins Ilustrasi tikus

KOMPAS.com - Membawa hewan peliharaan berpergian mungkin bukan hal yang baru. Namun, bagaimana jika tujuan dari perjalanan yang dilakukan adalah di Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS)?

Inilah yang dialami oleh dua kelompok tikus betina dari bumi. Mereka harus menempuh perjalanan cukup panjang untuk sampai ke antariksa.

Pengiriman tikus ke luar angkasa ini merupakan sebuah eksperimen yang dilakukan oleh Badan Antariksa AS (NASA). Tujuannya adalah untuk mempelajari bagaimana perubahan perilaku tikus-tikus tersebut setelah mengalami perjalanan antariksa dengan durasi panjang.

Hasilnya, eksperimen yang dipimpin oleh April Ronca dari NASA Ames Research Center itu mendapati adanya perubahan perilaku dari para tikus.

Baca juga: Berkat Tikus, Misteri Manusia Hobit Makin Terang

Tikus-tikus itu mulai berperilaku tidak biasa, yaitu melakukan putaran kandang mereka dalam "aktivitas kelompok terkoordinasi".

Dalam laporan di jurnal Scientific Reports, Ronca dan timnya menyebut mengirimkan dua kelompok tikus betina ke ISS, satu kelompok berusia 16 minggu dan keompok berusia 32 minggu.

Kedua kelompok tersebut kemudian dibandingkan dengan kelompok kontrol di Bumi.

Tikus-tikus itu mengalami perjalanan menggunakan kapal antariksa selama 17 dan 18 hari. Selama percobaan, tim menemukan bahwa tikus-tikus itu mengambil bagian dari "perilaku khas spesies".

Mereka tetap memiliki siklus sirkadian dan secara fisik aktif seperti di Bumi.

Namun, keadaan berubah setelah hari ketujuh hinga ke-10. Para tikus lebih muda mulai menampilkan perilaku tak biasa, yaitu berputar-putar di kandang dengan cepat atau yang dikenal dengan istilah tracking-race.

Mereka awalnya menggerakkan tubuh sepanjang lintasan lonjong. Perilaku ini berkembang dengan cepat menjadi putaran penuh melingkar.

Beberapa hari kemudian, banyak tikus mulai mengitari kandang dengan cara ini pada waktu yang bersamaan. Perilaku itu, kata para peneliti, berevolusi menjadi "kegiatan kelompok terkoordinasi".

Halaman:



Close Ads X