Hemofilia & vWD, Kelainan Penggumpalan Darah yang Serupa tapi Tak Sama

Kompas.com - 05/04/2019, 18:35 WIB
Peluncuran aplikasi hemofilia pada Kamis (4/4/2019). Lewat aplikasi, diharapkan pendataan dan penanganan hemofilia bisa lebih mudah. Julio Subagio/Kompas.comPeluncuran aplikasi hemofilia pada Kamis (4/4/2019). Lewat aplikasi, diharapkan pendataan dan penanganan hemofilia bisa lebih mudah.

KOMPAS.com - Tanggal 17 April diperingati sebagai World Hemophilia Day. Mungkin bagi sebagian orang, istilah hemofilia masih terdengar asing. Meski demikian, diperkirakan terdapat sekitar 20.000-25.000 penderita hemofilia di Indonesia.

Hemofilia adalah penyakit yang menyebabkan penderitanya mengalami kelainan pada proses penggumpalan darah. Lebih spesifiknya, penyakit ini terpaut pada kromosom X resesif dan membuat gen yang bertanggungjawab untuk mentranskripsikan faktor penggumpal mengalami kelainan.

Padahal, faktor penggumpal darah ini diperlukan untuk pembentukan benang fibrin yang berperan dalam penutupan luka. Nah, kurangnya konsentrasi faktor penggumpal dalam plasma darah membuat pendarahan pada penderita hemofilia dapat berlangsung sangat lama dan sulit terhenti.

Terdapat dua jenis hemofilia yang umum dijumpai. Hemofilia A terjadi apabila seseorang kekurangan faktor pembekuan VIII, sedangkan penderita hemofilia B mengalami kekurangan faktor pembekuan IX di dalam plasma darahnya.

Baca juga: Bagaimana Cara Tahu Anak Kita Punya Hemofilia?

Namun keduanya memiliki gejala yang serupa, yakni darah yang sulit menggumpal, keberadaan memar, serta nyeri dan pendarahan di area persendian.

Lalu karena hemofilia ini terpaut pada kromosom X, penyakit ini pun lebih sering dijumpai pada pria. Sebab, pria hanya memiliki satu kromosom X, sedangkan wanita baru akan mengidap hemofilia jika memiliki gen hemofilia di kedua kromosom X-nya.

Wanita dengan gen hemofilia di salah satu kromosom X hanya akan berperan sebagai pembawa (carrier), dan dapat mewariskan gen tersebut pada anak laki-lakinya.

Menurut Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), Prof dr. Djajadiman Gatot, Sp.A, sekitar 70 persen kasus hemofilia merupakan penyakit keturunan, sementara 30 persen lainnya adalah mutasi genetik yang kemunculannya tidak dapat diprediksi.

Dikarenakan penyebab hemofilia adalah kelainan kromosomal; maka hemofilia tidak dapat disembuhkan secara total, meski penderita dapat diberikan penanganan untuk meredakan gejalanya. Untuk saat ini, penanganan yang dapat diberikan pada penderita hemofilia adalah penyuntikan faktor penggumpal secara langsung melalui jarum suntik.

Baca juga: Aplikasi Hemofilia Diluncurkan, Registrasi Penderita Jadi Lebih Mudah

Penyuntikan faktor penggumpal ini memudahkan aktivitas penderita hemofilia, karena tidak memerlukan rawat inap dalam waktu lama seperti pada penggunaan transfusi darah yang sebelumnya digunakan dalam penanganan hemofilia.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X