Kali Pertama, Restoran AS Gunakan Minyak dari Kedelai Hasil Rekayasa Genetik

Kompas.com - 15/03/2019, 18:01 WIB
Ilustrasi menggoreng telur. ThinkstockIlustrasi menggoreng telur.

KOMPAS.com - Di suatu tempat di Midwest, AS, sebuah restoran sudah mulai memakai minyak goreng hasil dari kacang kedelai yang telah direkayasa secara genetika, menurut laporan kantor berita Associated Press.

Menurut perusahaan yang memproduksinya, Calyxt, ini adalah penggunaan komersial pertama bahan makanan yang sudah mengalami rekayasa genetika di Amerika Serikat.

Calyxt menolak mengungkap identitas pelanggan pertamanya karena alasan kompetisi bisnis. Tetapi CEO Jim Blome mengatakan minyak itu "sedang digunakan dan telah dikonsumsi."

Perusahaan yang berbasis di Minnesota itu berharap berita ini akan mendorong minat industri makanan pada minyak yang dipercaya tidak memiliki lemak trans dan bertahan lebih lama daripada minyak kedelai lainnya.

Baca juga: Peneliti Australia: Kulit Mangga Bisa Urai Limbah Minyak

Meskipun masih harus melihat permintaan, tetapi transisi minyak ke pasokan makanan menandakan potensi modifikasi gen untuk mengubahnya tanpa kontroversi GMO konvensional atau organisme yang dimodifikasi secara genetik.

Beberapa tanaman lain yang sedang diteliti kemungkinan untuk rekayasa gen, antara lain jamur yang tidak bisa berubah menjadi berwarna cokelat, gandum dengan lebih banyak serat, produksi tomat yang lebih baik, kanola yang tahan herbisida, dan padi yang tidak menyerap polusi tanah saat tumbuh.

Tidak seperti GMO konvensional yang dibuat dengan menyuntikkan DNA dari organisme lain, rekayasa gen memungkinkan para ilmuwan mengubah sifat-sifat tanaman yang ada dengan memotong atau menambahkan gen spesifik di laboratorium.

Beberapa perusahaan rintisan, termasuk Calyxt mengatakan tanaman mereka tidak memenuhi syarat sebagai GMO karena apa yang mereka lakukan secara teoritis dapat dicapai dengan kawin silang tradisional.

Sejauh ini, pemerintah AS telah menyetujui dan mengatakan beberapa tanaman yang direkayasa gennya tidak memerlukan pengawasan khusus selama pengembangannya. Sebagian perusahaan melihat hal ini sebagai kesempatan yang potensial.

"Mereka merasa terdorong dengan adanya keputusan pemerintah terkait hal ini," kata Greg Jaffe dari Pusat Sains untuk Kepentingan Umum (CSPI), sebuah organisasi advokasi pengawas kesehatan.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X