Bak Tukang Pos, Gunung Es Berwarna Hijau Ini Antarkan "Nutrisi" Lautan

Kompas.com - 08/03/2019, 19:06 WIB
Gunung es berwarna hijau Gunung es berwarna hijau

KOMPAS.com - Warna apa yang ada di benak Anda ketika mendengar kata gunung es? Sebagian dari Anda mungkin menyebut warna putih, dan sebagian lagi warna biru.

Tapi, bagaimana jika ada gunung es berwarna hijau? Ya, sejak tahun 1900-an, para pelaut dan penjelajah di sekitar Antartika kadang menemui gunung es hijau bak batu giok mengambang.

Selama itu pula, para ilmuwan kebingungan untuk menjelaskan fenomena tak biasa ini. Tapi, kini para ilmuwan mungkin memiliki penjelasa paling masuk akal.

Dalam makalah yang dipublikasikan di Journal of Geophysical Research: Oceans, tim ahli glasiologi menyebut bahwa gunung es ini berubah warna menjadi hijau karena besi oksida yang dibawa dari daratan Antartika.

Baca juga: Gunung Es Seluas 2,5 Kali DKI Jakarta Segera Pecah dari Antartika

Jika pendapat itu benar, berarti gunung es batu giok ini mengandung nutrisi penting untuk mendukung hampir semua kehidupan laut.

Pengantar "Nutrisi" Laut

"Ini seperti membawa paket ke kantor pos. Gunung es itu mengirimkan zat besi ke laut jauh, dengan mencair dan mengirimkannya ke fitoplankton sebagai nutrisi," ungkap Stephen Warren, penulis utama penelitian ini dikutip dari Science Alert, Kamis (07/03/2019).

"Kami selalu berpikir gunung es hijau ini menjadi rasa penasaran yang eksotis, tapi kini kami mengira mereka mungkin benar-benar penting," imbuh ahli glasiologi dari University of Washington itu.

Warren mulai mempelajari fenomena ini pada tahun 1988. Pada awalnya, dia tidak terkesan dengan warna gunung es tersebut tapi pada kepadatannya.

Gunung es itu berbeda dengan gunung es normal lainnya yang di bangun dari salju dikemas. Gunung es hijau tersebut tampaknya tidak memiliki kantong udara apa pun.

"Es ini tidak memiliki gelembung," kata Warren.

"Jelas bahwa itu bukan es gletser biasa," tegasnya.

Setelah mengambil sampel dari beberapa gunung es hijau dan menganalisisnya, Warren dan koleganya menyadari bahwa struktur beku ini bukan pecahan gletser.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Terkini Lainnya

Close Ads X