Kompas.com - 03/03/2019, 13:00 WIB

KOMPAS.com - Banyak penelitian telah membuktikan tidur dapat memengaruhi tubuh. Terkait hal itu, ada satu lagi bukti yang baru saja ditemukan ahli tentang tidur siang.

Studi yang dilakukan ilmuwan Singapura ini menemukan bahwa tidur siang bisa meningkatkan suasana hati, memori, dan fungsi kognitif lain. Namun dari sekian banyak sisi positif, tidur siang juga memicu kenaikan kadar glukosa dalam darah.

Dalam studinya, para ahli saraf dari Duke-NUS Medical School, Singapura, hanya mengamati para remaja. Sebab, remaja adalah kelompok usia yang dikenal memiliki pola tidur tak tentu.

Ada 59 siswa berusia 15-19 tahun yang terlibat dalam studi ini. Mereka hanya diperbolehkan tidur selama 6,5 jam dalam 24 jam. Peraturannya, para responden hanya boleh tidur selama 5 jam di malam hari dan 1,5 jam di siang atau sore hari.

Baca juga: Studi Baru: Tidur di Akhir Pekan Tak Bisa Gantikan Kurang Tidur Malam

Berdasarkan tes yang dilakukan, responden yang tidur siang memiliki kesehatan yang lebih baik. Dalam artian, mereka lebih positif, tidak mengantuk, kemampuan memori meningkat, serta kognitif lebih unggul.

"Menariknya, siswa yang tidur pada siang dan malam hari lebih waspada, daya ingat lebih baik dan memiliki suasa hati yang lebih baik dibanding mereka yang tidur selama 6,5 jam terus menerus," kata seorang peneliti dan ahli saraf Michael Chee, dilansir Science Alert, Jumat (1/2/2019).

Laporan yang dimuat dalam jurnal Sleep edisi 12 Februari 2019 mengingatkan, tidur bergantian - siang dan malam - memang memberi banyak efek positif, tapi juga dapat menjadi faktor risiko diabetes tipe 2 karena perilaku ini meningkatkan kadar glukosa darah.

Respon metabolik ini juga mungkin menampilkan hubungan misterius antara kurang tidur dan risiko terkena diabetes.

Para ahli dalam studi ini menyadari perlunya lebih banyak penelitian untuk mendalami keuntungan tidur, terutama dengan melibatkan lebih banyak responden untuk hasil lebih optimal.

Baca juga: Seberapa Buruk Tidur dengan Rambut Masih Basah?

Sejauh ini mereka baru bisa menyimpulkan bahwa kurang tidur tetap tidak baik untuk tubuh, terutama pada usia remaja yang mebutuhkan tidur selama 9 jam dalam sehari.

Sebab itu, Chee dan koleganya menyarankan untuk membagi jam tidur menjadi dua, yakni tidur siang dan malam.

"Mereka disarankan mendapat jumlah tidur malam yang direkomendasikan," tulis para ahli dalam kesimpulannya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.