Kompas.com - 28/02/2019, 19:45 WIB

KOMPAS.com - Asteroid Oumuamua masih menyimpan misteri hingga kini. Pasalnya, tak banyak yang diketahui tentang objek dari galaksi lain itu.

Sejak terlihat pada Oktober 2017 lalu, banyak analisis yang dilakukan pada asteroid ini. Salah satu yang mendapat perhatian adalah pendapat beberapa astronom yang menyebut Oumuamua adalah kapal alien.

Pendapat ini muncul karena perilaku aneh dari asteroid tersebut sulit dijelaskan. Meski begitu, para astronom lain membantah pendapat itu.

"Melompat pada kesimpulan bahwa asteroid ini milik alien, saya pikir kita belum menemukan bukti untuk itu," katta Amaya Moro-Martin, astronom Space Telescope Science Institute, Baltimore dikutip dari Science News, Rabu (27/02/2019).

Baca juga: Peneliti Harvard Sebut Asteroid Oumuamua adalah Kapal Alien

"Ada penjelasanan alami lainnya yang bisa dieksplorasi (untuk memahami perilaku Oumuamua)," imbuhnya.

Setidaknya ada tiga penjelasan yang mungkin menguraikan perilaku asteroid misterius itu.

1. Fraktal Es yang Mengembang

Salah satu hal yang membuat astronom Shmuel Bialy dan Avi Loeb dari Universitas Harvard percaya Oumuamua adalah kapal alien adalah kecepatan dari asteorid tersebut.

Mereka berpkir bahwa ada layar matahari di asteroid tersebut yang membuatnya bisa menggunakan dorongan cahaya bintang untuk bergerak antar-galaksi.

Namun, menurut Moro-Martin, layar matahari bukan satu-satunya cara untuk memanfaatkan tekanan radiasi ini. Struktur halus dan keropos yang menyerupai fraktal, pola geometris yang berulang pada skala yang lebih kecil dan lebih besar, juga dapat didorong oleh cahaya, katanya.

"Secara fisik itu akan menjadi ide yang sama, hanya saja geometrinya akan berbeda," ujarnya.

Partikel debu yang dikumpulkan di stratosfer Bumi dapat memiliki bentuk fraktal yang mengembang seperti ini, kata Moro-Martín. Pendapat ini dipublikasikan dalam Astrophysical Journal Letters pada 22 Februari lalu.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Apakah Buaya Termasuk Dinosaurus?

Oh Begitu
Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Apa Saja Manfaat Bermain Puzzle untuk Anak?

Oh Begitu
Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.