Astronot Pertama UEA Dijadwalkan ke Luar Angkasa September 2019

Kompas.com - 26/02/2019, 19:02 WIB
Salah satu dari kedua astronot Uni Emirate Arab (UEA) ini akan pergi ke luar angkasa pada 25 September 2019 bergabung dengan misi Soyuz di ISS. Salah satu dari kedua astronot Uni Emirate Arab (UEA) ini akan pergi ke luar angkasa pada 25 September 2019 bergabung dengan misi Soyuz di ISS.

KOMPAS.com - Astronot pertama dari Uni Emirat Arab ( UEA) akan terbang ke Stasiun Luar Angkasa Internasional ( ISS) pada 25 September 2019.

Antara pilot militer Hazza al-Mansoori atau insinyur Sultan al-Neyadi, akan menjadi warga UEA pertama ke luar angkasa.

Ini merupakan bagian dari program ruang angkasa yang ambisius untuk negara Teluk Arab yang memiliki gedung tertinggi di dunia dan bandara tersibuk untuk perjalanan internasional.

Al-Mansoori dan al-Neyadi terpilih dari 4.000 pelamar. Ketika ditanya mengenai kasus kegagalan roket Rusia membawa astronot ke Stasiun Luar Angkasa, mereka mengatakan tidak khawatir.

Baca juga: Pesawat Antariksa Jepang Tinggalkan Jejak di Asteroid Ryugu

"Setelah kejadian itu kami lebih percaya diri dengan kesiapan misi," kata al-Mansoori.

"Jika terjadi kegagalan, ada peralatan di atas roket untuk memastikan keselamatan awak yang membuat kami lebih percaya bahwa sistem bekerja dengan tingkat kecukupan yang memadai."

Insiden kecelakaan roket Soyuz-FG terjadi pada 11 Oktober 2018. Roket yang membawa astronot Nick Hague dan Kosmonot Rusia Alexei Ovchinin gagal tak lama setelah peluncuran.

Penyebab kegagalan sendiri akibat sensor yang rusak. Beruntung kedua astronot mendarat dengan selamat di Kazakhstan.

"Para astronot yang terlibat akan segera pergi ke luar angkasa," kata al-Neyadi.

"Ini menunjukkan betapa amannya Soyuz, karena para astronot dapat bertahan hidup jika terjadi kecelakaan."

Keduanya telah menjalani pelatihan intensif di pusat luar angkasa Star City di luar Moskow, yang meliputi tes ruang tekanan, tes sentrifugal, pelatihan penerbangan parabola, dan pelatihan bertahan hidup musim dingin.

Penerbangan parabola memungkinkan para astronot untuk berlatih menjadi tidak memiliki bobot saat berada di luar angkasa.

Al-Neyadi mengatakan tantangan terbesar yang dia hadapi bukanlah tantangan fisik, melainkan belajar bahasa Rusia, yang akan digunakan untuk berkomunikasi di dalam pesawat ulang-alik.

"Itu juga bahasa yang mereka gunakan saat berlatih bersama di pusat pelatihan di Rusia," kata al-Neyadi.

Baca juga: Pimpinan NASA Ungkap Rencana Bikin Astronot Tinggal di Bulan

Pesawat ruang angkasa Soyuz Rusia saat ini adalah satu-satunya kendaraan yang dapat mengangkut awak ke Stasiun Luar Angkasa Internasional setelah armada pesawat ulang-alik AS berhenti beroperasi.

Astronot pertama akan melakukan perjalanan pada September dengan misi luar angkasa Rusia di atas pesawat Soyuz MS-15 dan menghabiskan delapan hari di Stasiun Luar Angkasa Internasional. Astronot yang dipilih akan kembali ke atas pesawat Soyuz MS-12 dan kemudian digantikan oleh astronot kedua.

UEA memiliki program ruang angkasa yang baru dengan ambisi besar. Mereka meluncurkan satelit buatan lokal pertamanya, KhalifaSat, pada Oktober dari Jepang. Mereka juga ingin melakukan misi penelitian ke Mars pada 2020.

UEA juga mengatakan ingin membuat koloni di Mars pada 2117 dengan mendirikan kota dan memfungsikannya secara penuh bagi 600.000 orang.

Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X