Pernah Ada Masanya Jakarta Pusat Bebas dari DBD, Ini Ceritanya

Kompas.com - 14/02/2019, 18:07 WIB
Salah seorang pasien demam berdarah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/2/2016). KOMPAS/RADITYA HELABUMI Salah seorang pasien demam berdarah menjalani perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (3/2/2016).

KOMPAS.com – Prof dr Saleha Sungkar, DAP&E, MS, SpParK bercerita bahwa pernah ada suatu masa Jakarta Pusat terbebas dari demam berdarah dengue ( DBD).

Cerita ini bukan dari zaman dahulu kala, melainkan ketika Fauzi Bowo masih menjadi gubernur DKI Jakarta dan Sylviana Murni adalah walikota Jakarta Pusat.

Dituturkan oleh Saleha dalam seminar Info Sehat FKUI untuk Anda yang bertajuk “Demam Berdarah yang Tak Kunjung Musnah, Mengapa?” di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (13/2/2019); pada masa itu, Jakarta menjadi rumah kasus DBD terbanyak di dunia.

Berbagai upaya pemberantasan pun ditempuh oleh pemerintah, tetapi tidak ada yang berhasil. Secara drastis, pemerintah DKI Jakarta saat itu akhirnya menetapkan jumlah pasien DBD sebagai tolak ukur kinerja pemerintah daerah, dari tingkat lurah, camat sampai walikota.

“Kalau di kelurahan, di kecamatan atau di level walikota, jumlah demam berdarah sekian, lurahnya bisa turun pangkat, bahkan dipecat. Untuk enggak dipecat, maka gubernur dan walikota turun ke kelurahan-kelurahan,” cerita Saleha.

Baca juga: 5 Kesalahpahaman Terbesar tentang DBD dan Nyamuknya

Bersama dengan Sylviana dan Dr dr Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI; Saleha pun melakukan tur dari kelurahan ke kelurahan untuk melakukan peninjauan upaya pemberantasan DBD. Tur ini juga diikuti oleh lurah dan camat yang secara aktif menggalakkan warganya untuk mengikuti anjuran Pembersihan Sarang Nyamuk (PSN).

Setelah melakukan kegiatan ini selama satu semester, upaya mereka membuahkan hasil. Jakarta Pusat terbebas dari penyakit yang telah menghantuinya selama puluhan tahun.

Pemberantasan vektor terpadu

Sayangnya usai kegiatan tersebut dihentikan, angka DBD naik kembali.

Saleha berkata bahwa melakukan PSN dari rumah ke rumah memang bukan pekerjaan mudah. Tidak semua rumah mau membukakan pintunya bagi petugas dan mengikuti anjuran tersebut.

Akan tetapi, keberhasilan itu membukakan harapan untuk upaya pemberantasan vektor terpadu yang melibatkan advokasi ke pejabat pemeritah, kerjasama berbagai sektor (khususnya sektor kesehatan), riset, pendekatan terpadu, dan peningkatan kemampuan.

Pendidikan akan DBD dan PSN juga harus dimasukkan ke kurikulum, misalnya dengan mengajak anak-anak mewarnai gambar nyamuk dan membersihkan sekolah. Hal ini telah dilakukan di Kuba dan berhasil mengentaskan negara itu dari DBD.

Halaman:



Close Ads X