Kompas.com - 13/02/2019, 20:34 WIB

Dalam hal ini, Leonard menekankan kata “cairan pengganti” karena air putih biasa tidak cukup. Cairan pengganti ini harus mengandung glukosa dan elektrolit, misalnya susu, jus buah, isotonik elektrolit, teh manis dengan garam dan gula, atau cucian beras. Cairan pengganti ini diberikan kepada pasien sebanyak yang dia mampu, tanpa batasan ataupun pemaksaan.

Dalam studi yang dipublikasikan di Indian Journal of Community Medicine pada 2017, Leonard dan kolega menemukan bahwa pemberian cairan isotonik bagi pasien DBD lebih menjanjikan daripada air putih biasa.

Hal ini karena glukosa dan natrium pada cairan isotonik membawa air ketika diserap oleh usus sehingga penyerapannya lebih banyak daripada air putih biasa.

Terkait transfusi trombosit, Leonard mengatakan, yang membutuhkannya adalah pasien dengan trombosit di bawah 100.000 /µl disertai pendarahan masif, seperti mimisan yang tidak bisa berhenti dan berak darah. Bila tidak terjadi pendarahan, penanganannya bukan transfusi trombosit.

“Target kita bukan mengobati trombosit yang rendah, tetapi hematokritnya,” kata Leonard.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.