Meski Tak Bermagnitudo Besar, Ini Alasan Gempa Bandung Terasa Cukup Kuat

Kompas.com - 12/02/2019, 19:34 WIB
Ilustrasi gempa bumi.AFP Ilustrasi gempa bumi.

KOMPAS.com — Pada Senin (11/2/2019) siang kemarin, gempa bumi tektonik mengguncang wilayah Bandung, Garut, dan sekitarnya. Hasil analisis BMKG menunjukkan, gempa tersebut berkekuatan M 4,1.

Merujuk pada lokasi episenter dan kedalaman hiposenter gempa ini, Kepala Bidang Informasi Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Daryono menyebut lindu ini merupakan gempa bumi dangkal akibat aktivitas Sesar Garut Selatan (Garsela).

Dalam keterangannya, Daryono menjelaskan mekanisme terjadinya gempa bumi siang kemarin itu.

"Gempa Garut kemarin merupakan gempa yang dipicu oleh aktivitas sesar mendatar mengiri (sinistral strike-slip) dengan jurus sesar (strike) 245 derajat dan kemiringan bidang sesar (dip) 74 derajat," ungkap Daryono melalui pesan singkat.

Baca juga: Gempa Hari Ini: Dua M 4,1 Guncang Indonesia

Untuk diketahui, sesar Garsela yang memicu gempa kemarin memang telah lama aktif. Meski begitu, Daryono menegaskan bahwa kekuatan sesar ini relatif kecil dan dangkal.

"Jika mengamati klaster gempa-garut selatan, Garut tampak polanya berarah barat daya–timur laut. Kemungkinan berasosisasi dengan sesar lokal di daerah Garut Selatan," ujar Daryono.

"Adanya aktivitas kegempaan di sekitar sesar-sesar ini mengindikasikan bahwa sesar-sesar di Garut ini tersebut tergolong aktif," sambungnya.

Daryono juga menjelaskan bahwa zona sesar Garsela terbagi dalam dua segmen, yaitu segmen Rakutai dan dan segmen Kencana.

Sangat terasa karena...

"Hasil monitoring kami di BMKG sejak tahun 2009 zona sesar Garsela memang sering terjadi gempa, tetapi tidak pernah ada yang kekuatan/magnitudonya yang melebihi M 5,0," kata Daryono.

"Rata rata gempa di situ berkekuatan kecil, tetapi sangat dangkal sehingga guncangannya sangat dirasakan oleh masyarakat," tegasnya.

Terkait kedalaman gempa ini, Daryono memperingatkan bahwa gempa dangkal bisa berpotensi merusak.

Halaman:



Close Ads X