Sempat Minus 60 Derajat, Apakah Cuaca Ekstrem AS akibat Perubahan Iklim?

Kompas.com - 02/02/2019, 13:53 WIB
Uap muncul Air Terjun Niagara sebelum matahari terbit  di, Ontario, Kanada, Kamis (31/1/2019). Cuaca ekstrem membuat sebagian Air Terjun Niagara membeku. (AFP/Lars Hagberg) Uap muncul Air Terjun Niagara sebelum matahari terbit di, Ontario, Kanada, Kamis (31/1/2019). Cuaca ekstrem membuat sebagian Air Terjun Niagara membeku. (AFP/Lars Hagberg)

KOMPAS.com — Satu pertiga wilayah Amerika Serikat tengah menghadapi cuaca dingin yang sangat ekstrem. Para ilmuwan pun mengkaji sejauh mana kondisi ini berkaitan dengan perubahan iklim jangka panjang.

Lantas, apa yang terjadi terhadap pemanasan global?

Itulah yang barangkali ingin diketahui Presiden AS Donald Trump ketika mengunggah pernyataan ke akun Twitter miliknya beberapa hari lalu.

Tidak ada keraguan bahwa kawasan di bagian utara dan tengah AS kini dingin—sangat dingin.

Perhatikanlah imbauan Badan Cuaca Nasional AS (NWS). Mereka memperingatkan bahwa temperatur rendah dapat dengan mudah membekukan darah di tulang-tulang Anda.

Baca juga: Cuaca Ekstrem Polar Vortex, Kenapa Hanya Sebagian Amerika yang Beku?

Jangan keluar rumah, demikian desak NWS. Dan jika Anda memang perlu berpergian, "hindari menarik nafas panjang dan bicara seperlunya."

Apakah Trump Benar?

Jadi, apakah serangan suhu dingin ini adalah bukti ancaman pemanasan global?

Sedihnya, jawaban "tidak", sebagaimana dinyatakan badan pemerintahan AS yang menanggapi cuitan Trump.

"Badai musim dingin tidak membuktikan bahwa pemanasan tidaklah terjadi," demikian cuitan Badan Nasional Atmosfer dan Kelautan AS (NOAA).

NOAA melampirkan tautan ke artikel yang memaparkan bahwa badai salju lebat barangkali wajar terjadi karena bumi menghangat.

Anda mungkin telah mendengar bahwa cuaca buruk ini disebabkan sesuatu bernama polar vortex.

Halaman:



Close Ads X