Agar Sehat dan Berumur Panjang, Ahli Sarankan Bergerak 30 Menit Sehari

Kompas.com - 16/01/2019, 20:03 WIB
Ilustrasi berjalan di tanggaspukkato Ilustrasi berjalan di tangga


KOMPAS.com - Memiliki tubuh sehat merupakan impian semua orang. Selain pergi ke gym atau jogging, ahli menyebut hanya melakukan gerakan 30 menit sehari tetap ampuh membuat badan sehat.

Ada banyak studi yang mengatakan bahwa kebanyakan duduk dikaitkan dengan berbagai risiko kesehatan, mulai dari penyakit kardiovaskular sampai penuaan dini.

Namun, studi terbaru yang terbit di American Journal of Epidemiology menemukan bahwa bergerak selama 30 menit (selain duduk) tetap dapat membantu kita memiliki umur panjang.

Melansir Time, Selasa (15/1/2019), melakukan aktivitas ringan seperti berjalan selama 30 menit dapat menurunkan risiko kematian dini sebesar 17 persen.

Baca juga: Habiskan 197 Hari di Luar Angkasa, Astronot Ini Harus Belajar Berjalan

Gerakan dengan intensitas lebih tinggi tentu memiliki efek yang lebih besar, yakni mampu menurunkan risiko kematian dini sampai 35 persen.

"Dulu, seluruh ahli menyebut bahwa kita harus melakukan olahraga yang menyakitkan untuk menuai manfaat," kata rekan penulis studi Keith Diaz, asisten profesor kedokteran di Columbia University Irving Medical Center.

"Namun studi kami menunjukkan hal berbeda, yakni olahraga tidak perlu dilakukan berjam-jam. Sebab itu hal ini bisa dilakukan semua orang. Kita hanya perlu berjalan dalam waktu singkat, setengah jam."

Diaz mengatakan, melakukan olahraga yang lebih berat tentu akan mendapat manfaat lebih besar.

Misalnya, satu jam berolahraga memberi manfaat dua kali lebih banyak dibanding yang berolahraga setengah jam.

Meski demikian, Diaz menambahkan tubuh juga memiliki ambang batas untuk berolahraga, yakni 3,5 jam.

Studi ini menggunakan data hampir 8.000 orang Amerika berusia lebih dari 45 tahun. Masing-masing diminta menggunakan alat pelacak aktivitas fisik selama empat hari sebagai bagian dari studi.

Para ahli menggunakan data ini untuk menghitung berapa banyak waktu yang dihabiskan orang untuk berdiam diri dan beraktivitas, juga melacak data kesehatan terkait kematian orang selama lebih dari lima tahun.

Ahli kemudian menciptakan simulasi tentang bagaimana banyak ataupun sedikit bergerak dapat memengaruhi risiko kematian.

Mereka menemukan bahwa peningkatan aktivitas fisik yang sangat sederhana berkontribusi pada risiko kematian yang lebih rendah.

Selain itu, aktivitas-aktivitas yang dilakukan sesekali jika diakumulasikan memiliki dampak yang sama seperti melakukan dalam waktu panjang.

"Kita dulu berpikir bahwa olahraga harus dilakukan pada intensitas sedang hingga kuat. Kita juga berpikir itu harus dilakukan minimal selama 10 menit setiap hari," kata Diaz.

"Studi kami sedikit mengubah pandangan tersebut. Satu menit gerakan saat ini dan satu menit gerakan nanti tetap memiliki dampak untuk kesehatan," sambungnya.

Baca juga: Ini Waktu Terbaik untuk Olahraga Turunkan Berat Badan, Menurut Sains

Namun studi ini memiliki keterbatasan karena hanya berdasarkan simulasi dan bukan percobaan langsung.

Menurut Diaz, pihaknya telah berencana melakukan hal tersebut untuk membuktikan temuan awalnya.

Meski begitu, studi ini telah melampaui banyak penelitian sebelumnya dalam menghitung setiap aktivitas manusia dan memodelkan bagaimana kegiatan aktif dan pasif berpengaruh untuk kesehatan.



Close Ads X