Ilmuwan Ungkap Laut Semakin Hangat, Lebih Cepat dari Prediksi

Kompas.com - 12/01/2019, 15:16 WIB
Pemanasan global di laut Pemanasan global di laut

KOMPAS.com - Pemanasan global merupakan salah satu penyebab naiknya suhu Bumi. Diperkirakan, sebesar 90 persen pemanasan global ini disebabkan emisi karbon dari aktivitas manusia.

Hal inilah yang meyakinkan para peneliti bahwa lautan kian memanas lebih cepat dari yang diperkirakan sebelumnya.

Dilansir dari Scientific American, pihak Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) sebagai panel ilmiah internasional yang menangani pemanasan global, telah menemukan temuan baru.

IPCC menemukan tinjauan baru yang menyimpulkan banyak bukti yang menunjukkan pemanasan yang diamati, yaitu kandungan panas lautan, yang lebih kuat.

Selain itu, para peneliti mengungkapkan bahwa lautan memanas sekitar 40 persen lebih cepat dari perkiraan sebelumnya.

Sementara, menilik pada 1950, hasil penelitian umumnya menunjukkan bahwa lautan telah menyerap setidaknya 10 kali lebih banyak energi tiap tahun yang diukur dalam satuan joule, seperti yang dikonsumsi manusia di seluruh dunia dalam setahun.

Menilai hal ini, banyak keprihatinan manusia tentang perubahan iklim berfokus pada dampaknya terhadap daratan, seperti kenaikan suhu udara, perubahan pola cuaca, dan lainnya.

Baca juga: Pemanasan Global, Ancaman Nyata bagi Situs Warisan Dunia

Adapun perkiraan akurat tentang pemanasan global juga sangat penting bagi para peneliti untuk menentukan seberapa sensitif planet ini terhadap emisi gas rumah kaca dan seberapa cepat ia memanas di masa depan.

"Dalam banyak hal, lautan adalah termometer terbaik yang kita miliki untuk planet ini," ujar ilmuwan iklmin di University of California, Barkeley, Zeke Hausfather.

Menurut dia, pemanasan yang dipercepat juga menjadi masalah besar bagi ekosistem laut, mendorong terjadinya pemutihan karang massal di seluruh dunia, dan memaksa beberapa spesies untuk bermigrasi ke perairan yang lebih dingin.

Upaya yang dilakukan ilmuwan

IlustrasiPexels Ilustrasi
Selama hampir dua dekade, para ilmuwan telah menggunakan jaringan pelampung yang didistribusikan ke seluruh lautan untuk memonitor suhu air di seluruh dunia secara konstan.

Namun, ketika awal jaringan diluncurkan, para ilmuwan mengandalkan pengukuran yang diambil dari kapal yang lewat saat melintasi lautan.

Ini berarti pengamatan terhadap suhu lautan di seluruh dunia lebih jarang tercatat dan para ilmuwan harus mengolahnya menggunakan metode statistik atau model lain untuk mengisi kekosongan.

Dalam beberapa tahun terakhir, peningkatan data dari float network membantu para ilmuwan untuk menganalisis pengukuran sebelumnya dan mengembangkan rekonstruksi pemanasan laut yang lebih akurat selama seabad terakhir.

Halaman:
Punya opini tentang artikel yang baru Kamu baca? Tulis pendapat Kamu di Bagian Komentar!


Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Close Ads X