Hasil Survei Pascatsunami Selat Sunda: Tinggi Rayapan Capai 13,4 Meter

Kompas.com - 31/12/2018, 19:14 WIB
Pemandangan kawasan Kecamatan Sumur yang hancur diterjang gelombang tsunami Selat Sunda di Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, korban meninggal dunia akibat tsunami yang melanda wilayah pantai sekitar Selat Sunda bertambah menjadi 222 orang.  ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama. 
MUHAMMAD ADIMAJAPemandangan kawasan Kecamatan Sumur yang hancur diterjang gelombang tsunami Selat Sunda di Pandeglang, Banten, Selasa (25/12/2018). Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, korban meninggal dunia akibat tsunami yang melanda wilayah pantai sekitar Selat Sunda bertambah menjadi 222 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama.

KOMPAS.com - Ahli tsunami dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Abdul Muhari baru saja mengunggah hasil survei pasca- tsunami Selat Sunda yang dilakukan pada 26 hingga 30 Desember 2018.

Survei yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan itu menemukan bahwa tinggi rayapan tsunami pada Sabtu (22/12/2018) itu mencapai 13,4 meter.

Dihubungi Kompas.com, Senin (31/12/2018), Abdul menceritakan bagaimana angka itu didapatkan.

"Tinggi rayapan tsunami yang mencapai 13,4 m dihitung dengan menggunakan alat pengukur jarak horizontal dan vertikal (automatic laser finder dan GPS) mulai dari bibir pantai sampai di titik tertinggi bekas/jejak tsunami terlihat," kata Abdul melalui pesan singkat.

Baca juga: Tapak Tilas Tsunami Selat Sunda Ungkap 3 Sebab Utamanya

"Jejak tsunami ini bisa berupa batas genangan air, jejak sampah yang terbawa tsunami di dinding tebing atau tanah," imbuhnya.

Selain tinggi rayapan tsunami, Abdul mengatakan ada beberapa data lain yang didapatkan dari survei tersebut.

"Data tinggi rendaman tsunami (flow depth), tinggi rayapan tsunami (run-up) dan jarak landaan tsunami ke darat (inundation distance)," tutur Abdul.

"Data ini sangat penting untuk menentukan karakteristik dari tsunami," sambungnya.

Masih dalam unggahannya, Abdul juga menjelaskan mengenai dampak yang terjadi di bagian selatan Pandeglang. Dia menuliskan dampak parah yang terpusat di wilayah itu mengindikasikan konsentrasi energi tsunami.

Fenomena ini berbeda dengan wilayah Anyer utara dan Cilegon. Dalam unggahan tersebut, Abdul menggatakan bahwa keberadaan pulau-pulau kecil di sekitar Anak Krakatau mungkin mempengaruhi penyebaran energi tsunami tersebut.

Selain itu, perbedaan tingkat tanah juga berpengaruh terhadap dampak tsunami.

"Wilayah Pandeglang bagian selatan mengalami dampak yang lebih besar karena struktur pantai berupa pantai tertebing sehingga rayapan tsunami lebih tinggi," ujar Abdul.

"Sedangkan di Anyer-Carita ke arah utara daratan lebih landai sehingga tinggi rayapan tsunami lebih rendah tapi masuk ke darat lebih jauh," tegasnya.

Meski begitu, Abdul mengatakan bahwa masih belum diketahui mekanisme tsunami yang terjadi Sabtu malam tersebut. Para peneliti saat ini masih mencoba mencari tahu penyebab bencana yang terjadi dengan mendokumentasikan dampaknya.

Baca juga: Tsunami Selat Sunda Bisa Terjadi Lagi, tapi Kematian Karenanya Bisa Dihindari

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X