Sains Jelaskan Rasa Ingin Meremas Sesuatu yang Menggemaskan

Kompas.com - 27/12/2018, 18:02 WIB
Koala yang menggemaskan di Currumbin Wildlife Sanctuary, Gold Coast, Queensland, Australia.KOMPAS.COM/SILVITA AGMASARI Koala yang menggemaskan di Currumbin Wildlife Sanctuary, Gold Coast, Queensland, Australia.

KOMPAS.com – Pernahkah Anda melihat sesuatu yang menggemaskan kemudian muncul hasrat untuk meremas, memeluk, atau mencubit, bahkan menggigitnya? Kalau benar, berarti Anda mengalami apa yang disebut para ahli sebagai ‘cute aggression’.

Meski terdengar negatif, namun tidak perlu khawatir, hal tersebut adalah sesuatu yang wajar dan bukan sesuatu yang berkaitan dengan kekerasan. Bahkan, hasrat tersebut membuat kita lebih peduli akan suatu hal.

Penelitian menunjukkan, cute aggression sebagai respons neurologis yang kompleks dan melibatkan beberapa bagian otak.

"Pada dasarnya, bagi orang-orang yang cenderung mengalami perasaan yang tidak bisa menggambarkan ‘sesuatu sangat menggemaskan’, maka cute aggression terjadi," jelas Katherine Stavropoulos, seorang peneliti ilmu kognitif dan neuropsikologi di University of California.

Baca juga: Ini Usia Anjing Paling Menggemaskan, Menurut Sains

"Studi kami menggarisbawahi gagasan bahwa cute agreesion adalah cara otak menekan tersebut dengan memediasi perasaan kita," sambungnya dikutip dari Science Alert, Selasa (25/12/2018).

Untuk pertama kalinya, Stavropoulos dan timnya secara langsung menunjukkan bahwa gemas yang berujung pada meremas atau mencubit memiliki kaitan dengan aktivitas dalam sistem penghargaan otak.

Itu merupakan bagian otak yang bertanggung jawab atas perasaan "keinginan" dan “kesenangan” dengan sistem yang memproses emosi kita.

Dengan menggunakan electrophysiology, para peneliti memetakan aktivitas otak dari 54 peserta antara usia 18 dan 40. Masing-masing peserta ditunjukkan 128 foto bayi manusia dan binatang yang telah diedit agar tampak lebih lucu dan menggemaskan.

Setelah masing-masing foto diperlihatkan, para peserta diberikan serangkaian pertanyaan terkait perasaan berlebihan mereka dengan gambar-gambar tersebut dan apakah mereka merasa terdorong untuk memperhatikan apa yang baru saja mereka lihat.

Studi ini menemukan, bahwa sekitar 64 persen peserta mengaku mengatakan, "sangat lucu saya ingin meremasnya". Sekitar 74 persen mengaku benar-benar meremas atau mencubit berdasarkan dorongan tersebut.

Namun perlu ditekankan, bahwa hal ini tidak menjurus ada sesuatu tindak kekerasan.

Hal ini dibuktikan ketika diberikan foto bayi binatang imut, para peserta secara khusus memang terpengaruh oleh cute aggression dan mengakui memiliki perasaan yang berlebihan akan gambar tersebut.

Tetapi di lain pihak, mereka justru memberikan respons keinginan merawat yang tinggi.

Baca juga: Perkenalkan Gurita Dumbo, Makhluk Menggemaskan dan Mandiri Sejak Lahir

"Ada korelasi yang sangat kuat antara penilaian cute aggression yang dialami subjek terhadap hewan imut dan respons penghargaan di otak terhadap hewan imut," kata Stavropoulos.

"Cute aggression bisa berfungsi sebagai mekanisme yang memungkinkan kita berfungsi dan benar-benar menjaga sesuatu yang pertama kali kita anggap imut," imbuhnya.

Jadi, ketika ada objek yang terlihat sangat menggemaskan dan mungkin terlihat benar-benar tidak berdaya atau lemah, sebenarnya dapat membantu mereka bertahan hidup karena orang memiliki kecenderungan cute aggression.

Penelitian yang telah terbit pada jurnal Frontiers in Behavioral Neuroscience ini kedepannya akan melakukan studi untuk mencari tahu apa yang membuat beberapa orang memiliki kecenderungan mengalami cute aggression daripada orang lain.



Close Ads X