Kompas.com - 27/12/2018, 10:07 WIB

KOMPAS.com - Tsunami Selat Sunda pada Sabtu (22/12/2018) lalu menyisakan duka. Berita-berita mengenai keadaan di Banten dan Lampung menjadi topik hangat di mesin pencari.

Di antara semua pemberitaan, yang paling mendapat perhatian adalah duka lara yang terjadi. Seperti berapa jumlah korban, dampak bencana, hingga siapa saja korbannya.

Sedangkan porsi pembelajaran yang bisa diambil dari peristiwa bencana kurang mendapat perhatian dari publik.

Menurut Listyo Yuwono, pakar psikologi kebencanaan, ini merupakan fenomena yang lumrah terjadi pada bencana berskala besar.

Baca juga: Menyoal Dakwaan pada Anak Krakatau tentang Kasus Tsunami Selat Sunda

Masyarakat Masih Reaktif

Meski begitu, Listyo menyoroti pentingnya masyarakat mengambil pelajaran tentang bencana yang terjadi.

"Fenomena yang banyak terjadi masyarakat lebih berfokus pada dampak atau duka laranya. Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar masyarakat kita masih bersifat reaktif daripada proaktif mencegah terjadinya risiko bencana," ungkap Listyo kepada Kompas.com, Rabu (26/12/2018).

"Kesadaran akan potensi bencana dan pengenalan mitigasi bencana yang sesuai dengan ancaman bencana yang dapat dialami di daerahnya masih tergolong rendah," imbuhnya.

Listyo menambahkan, bahkan masyarakat yang tidak terkena bencana masih memiliki keyakinan bahwa bencana yang terjadi di daerah lain tidak akan terjadi di daerahnya. Itu karena belum pernah terjadi atau tidak ada kesejarahan bencana di wilayah tersebut.

"Banyak masyarakat yang tidak mengetahui potensi bencana di daerahnya dan tidak mengikuti informasi terbaru pemetaan potensi bencana," ujar Listyo.

"Masyarakat juga masih belum menyadari sebagai agen pendidikan bencana sehingga meletakkan tanggungjawab penanganan bencana kepada pemerintah ataupun organisasi penanganan bencana," sambungnya.

Peran Media

Selain karena masyarakat Indonesia yang dinilai masih sangat reaktif menanggapi bencana, fenomena ini juga terjadi karena peran media.

"Bencana yang terjadi dalam skala besar selalu diliput dan menjadi fokus atau trending topic media," kata Listyo.

Baca juga: Tsunami Selat Sunda Bisa Terjadi Lagi, tapi Kematian Karenanya Bisa Dihindari

"Media selama ini lebih banyak menginformasikan atau memberitakan tentang proses kejadian bencana dan dampaknya sehingga masyarakat fokus pada duka lara dibandingkan edukasi pembelajaran bencana," imbuhnya.

Untuk itu, menurut dosen psikologi di Universitas Surabaya tersebut, media seharusnya punya peran ideal sebagai sarana memberi informasi terkait bencana, dampak dan edukasi mitigasi bencana untuk pengurangan risiko bencana.

Di samping itu, Listyo menyarankan masyarakat harus lebih aktif dalam mitigasi bencana.

Tujuannya adalah mewujudkan masyarakat tangguh bencana, sekolah tangguh bencana, dan keluarga tangguh bencana. Nantinya ini akan menjadi bentuk peningkatan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.