Analisis DNA Jadi Harapan Baru Lindungi Satwa Liar

Kompas.com - 20/12/2018, 17:34 WIB
Tim medis satwa BBKSDA Riau melakukan Nekropsi atau bedah terhadap bangkai harimau sumatera yang mati akibat jeratan, Rabu (26/9/2018). Kompas.com/Idon TanjungTim medis satwa BBKSDA Riau melakukan Nekropsi atau bedah terhadap bangkai harimau sumatera yang mati akibat jeratan, Rabu (26/9/2018).

KOMPAS.com – Bercermin pada kasus yang merenggut nyawa harimau sumatera yang bunting dua anak beberapa waktu silam, perlindungan terhadap satwa liar menjadi hal yang penting dilakukan. Pasalnya, kasus ini tidak boleh terulang kembali.

Salah satu cara yang saat ini tengah digenjot adalah dengan memanfaatkan genetika dari satwa liar yang terancam punah. Para ahli sepakat, pemanfaaatan genetika pada satwa yang terancam punah bisa menjadi jalan baru untuk melindungi populasi mereka, baik dari sisi penegakan hukum maupun konservasi.

“Ini bukan hal yang baru. Yang baru bagi kami adalah orientasi genetik tidak hanya digunakan untuk pemanfaatan kepada penegak hukum tapi juga pada perlindungan dan pengelolaan satwa liar di habitatnya. Karena kalau sudah jadi kulit dan cula, it's gone,” ungkap Noviar Andayani, Country Director dari Wildlife Conservation Society.

Baca juga: Jerat Tak Cuma Ancam Harimau, Bisa Musnahkan Semua Satwa di Sumatera

Pada praktiknya, metode ini akan mengidentifikasi DNA yang diperoleh dari produk hewan yang dicurigai berasal dari hewan yang dilindungi. Hal ini dilakukan karena banyaknya oknum pedagang yang berkelit bahwa produk yang mereka jual bukan berasal dari hewan yang dilindungi.

Analisis DNA dapat menyediakan data akurat terhadap pengaturan kuota untuk pemanfaatan satwa liar yang berkelanjutan di Indonesia di bawah PP nomor 8 tahun 1999 tentang pemanfaatan jenis tumbuhan dan satwa liar.

Tidak hanya bermanfaat dalam menegakkan hukum terhadap perdagangan produk satwa liar, metode ini juga berguna untuk mengefektifkan konservasi yang ada saat ini.

“Jadi ada E-DNA (Environment DNA). Jadi gini, misalnya ada kubangan, yang namanya satwa liar itu kan butuh minum, dia juga beraktivitas di sekitaran air. Mungkin bagian rambut satwa, keringat, atau dari fesesnya yang jatuh di sekitarnya mungkin ada DNA-nya. Itu yang digunakan untuk mendeteksi jenis apa saja yang ada di situ,” ungkar Amir Hamidy, peneliti bidang Reptil dari LIPI.

Baca juga: Cerita Badak Pahu dan Upaya Konservasi Spesiesnya Lewat Translokasi

“Jadi misalnya gajah, kita cari DNA di satu kubangan, kemudian pada sekian wilayah lain yang ada kubangannya, kita cari juga DNA dia, sampai sana enggak? Kalau sampai sana, kita bisa tahu berapa daya jelajahnya,” imbuhnya saat ditemui pada Seminar Teknologi Genomik dan Forensik Molekular Satwa Liar, Rabu (19/12/2018), Depok, Jawa Barat.

Menurut Yani, metode ini lebih efektif ketimbang cara konvensional yang dilakukan. Sebab, para petugas konservasi tidak perlu melakukan patroli ke seluruh wilayah konservasi, melainkan hanya melakukan pemantauan di daerah jelajah satwa liar.

“Supaya mereka (satwa yang dilindungi) tidak menjadi dompet, harus dilindungi di habitatnya. Dan karena melindungi di habitatnya merupakan pekerjaan besar, analisis genetik bisa membantu di mana fokus perlindungan itu dilakukan,” pungkas Yani.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku
Komentar


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X