Inilah 15 Negara Paling Rentan Bencana Alam - Kompas.com

Inilah 15 Negara Paling Rentan Bencana Alam

Kompas.com - 04/12/2018, 17:00 WIB
IlustrasiMAST IRHAM/EPA Ilustrasi

KOMPAS.com - Sebuah hasil penelitian terbaru menunjukkan sembilan dari 15 negara yang paling berisiko mengalami bencana alam. Kebanyakan negara-negara tersebut rentan terhadap bencana alam karena perubahan iklim dan merupakan negara kepulauan.

Penelitian yang tercantum dalam Laporan Risiko Dunia 2018 tersebut menganalisis risiko bencana alam, tsunami, badai siklon tropis dan banjir di 172 negara. Penelitian itu juga menakar kapasitas masing-masing negara dalam menangani bencana.

Penelitian ini dilakukan oleh Universitas Ruhr Bochum (Jerman) dan koalisi LSM kemanusiaan Jerman, Development Helps Alliance.

15 Negara Paling Rentan

15 negara paling berisiko bencana alam 15 negara paling berisiko bencana alam

Tim peneliti menggaribawahi nasib anak-anak pada khususnya. Berdasarkan data itu, sekitar satu di antara empat anak di seluruh dunia tinggal di wilayah-wilayah yang rentan mengalami bencana.

Selain itu, data PBB menunjukkan lebih dari 50 persen penduduk yang kehilangan tempat tinggal akibat konflik atau bencana alam pada tahun 2017 adalah mereka di bawah usia 18 tahun.

Pulau menduduki peringkat teratas karena kerentanannya terhadap peristiwa-peristiwa terkait dengan iklim, termasuk kenaikan permukaan laut.

Pulau kecil Vanuatu di Pasifik Selatan dianggap sebagai negara yang paling rentan di dunia, disusul negara tetangganya, Tonga.

Kepulauan Filipina yang mempunyai 104 juta penduduk dimasukkan ke tempat nomor tiga.

Oceania dianggap sebagai kawasan yang secara umum paling berisiko dalam laporan yang disusun oleh tim peneliti Jerman.

Meski begitu, beberapa negara Afrika tidak juga masuk 15 besar dalam urutan ini. Itu karena mereka mempunyai "kerentanan sosial" terhadap bencana.

Baca juga: Pakar: Pemanasan Global Bikin Dunia Hadapi 6 Bencana Sekaligus

Posisi Indonesia dan Negara Lain

Adapun Indonesia ditempatkan di urutan ke-36 dengan indeks risiko 10,36, di bawah India dan Islandia.

Berdasarkan laporan, Qatar tercatat sebagai negara yang risikonya paling kecil.

Kerentanan sosial

Tim peneliti menekankan perlunya persiapan menghadapi bencana alam ekstrem, dengan menggunakan contoh positif dari negara-negara Eropa ketika mengalami gelombang panas yang terjadi selama musim semi dan musim panas tahun ini.

Gelombang panas di benua Eropa itu menyebabkan kekeringan yang berdampak langsung pada pertanian.

"Yang membuat negara-negara yang mengalami kekeringan itu terhindar dari bencana adalah tingkat kerentanan mereka relatif rendah," tulis Katrin Radtke, seorang profesor di Universitas Ruhr Bochum.

Indek risiko dihitung dengan mempertimbangkan tidak hanya kemungkinan terjadinya bencana alam tetapi juga bagaimana negara menyiapkan diri menghadapi bencana alam.

Peta risiko bencana dunia Peta risiko bencana dunia

Para peneliti mempertimbangkan faktor-faktor seperti pembuatan building code hingga tingkat kemiskinan dan rencana yang disiapkan menghadapi krisis jika benar-benar terjadi.

Inilah alasan mengapa negara-negara yang kerap dilanda bencana alam, seperti Jepang dan Cile yang sering diguncang gempa, tidak masuk ke dalam daftar 20 negara yang paling berisiko.

Baca juga: Gagap terhadap Bencana di Negara Kepulauan Terbesar di Dunia

Bahkan, Belanda yang mengalami kenaikan permukaan laut selama berabad-abad, hanya menduduki di posisi ke-65.

"Negara-negara tersebut tidak dapat meminimalkan risiko yang mungkin saja terjadi akibat peristiwa alam, tetapi mereka tidak tergolong paling rentan," tulis laporan tersebut.

Negara-negara lain, seperti Mesir, meskipun negara itu kecil kemungkinan mengalami bencana, secara sosial dianggap rentan mengalami bencana.
Negara itu hanya menduduki di posisi ke-166 dalam daftar, tetapi skornya lebih buruk dibandingkan Jepang dalam hal kerentanan dan kemampuan menanganinya.

"Terkait dengan cuaca, 2018 adalah tahun pembuka mata. Lagi-lagi, tampak bahwa kesiapan menghadapai peristiwa alam ekstrem adalah penting," kata Angelika Bohling, ketua Development Helps Alliance.



Close Ads X