Kompas.com - 26/11/2018, 18:02 WIB
(ki-ka) Kurator Museum Arkeologi Burke, Peter Laper dan Daud Tanudirjo sedang menggali lapisan di situs pulau Ay untuk mengetahui kapan pertama kali pala digunakan dalam makanan.
(ki-ka) Kurator Museum Arkeologi Burke, Peter Laper dan Daud Tanudirjo sedang menggali lapisan di situs pulau Ay untuk mengetahui kapan pertama kali pala digunakan dalam makanan.

KOMPAS.com - Kunci dari setiap makanan adalah rempah yang terkandung di dalamnya. Namun, sejak kapan manusia menggunakan rempah-rempah sebagai bahan makanan?

Sebuah studi yang dimuat dalam jurnal Asia Perspectives akhirnya berhasil menjawab pertanyaan itu.

Dalam laporan yang dibuat dan dilakukan oleh tim gabungan Internasional (terdiri dari Universitas Washington, University of South Wales, Australia, Universitas Gadjah Mada (UGM), Balai Arkeologi Ambon, dan lainnya), cikal bakal penggunaan rempah kemungkinan besar berada di sebuah pulau kecil timur Indonesia, yakni pulau Ay.

Saat para ahli meninjau pulau Ay yang ada di kepulauan Banda, Maluku, mereka menemukan residu pala pada pecahan tembikar yang diprediksi berusia 3.500 tahun, usia residu itu 2.000 tahun lebih tua dari penggunaan cengkih.

Baca juga: 7 Jenis Rempah yang Bisa Bantu Turunkan Berat Badan

Tim yang dipimpin oleh Peter Lape, profesor antropologi Universitas Washington itu telah melakukan dua kali penggalian pada 2007 dan 2009.

Dari hasil pengamatan, para ahli memprediksi situs arkeologi pulau Ay dihuni pada 2.300 sampai 3.500 tahun yang lalu. Hal itu ditunjukkan dengan adanya tulang belulang hewan, sisa gerabah, dan alat dari batu.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Berbagai artefak yang ditemukan memberikan bukti perubahan dalam pemanfaatan sumber makanan laut, hewan, dan tembikar dari waktu ke waktu.

Studi menyimpulkan, dalam 500 tahun pertama kehidupan di pulau Ay, masyarakatnya cenderung makan ikan dan babi ternak.

Selain itu juga ditemukan tembikar berupa bak dengan dinding tipis. Ahli menduga, di awal kehidupan tembikar tersebut digunakan untuk menampung air agar bisa bertahan hidup di kawasan kering.

Beberapa ratus tahun kemudian, tembikar dengan dinding lebih tebal diadaptasi untuk memasak bersama dengan tulang babi.

Halaman:


Sumber Eurekalert
Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.