Kompas.com - 22/11/2018, 18:34 WIB
Tim gabungan tengah mengukur panjang bangkai paus di Perairan Wakatobi. Foto istimewa Bangkai paus yang mati terdampar di perairan Wakatobi diukur petugas gabunganTim gabungan tengah mengukur panjang bangkai paus di Perairan Wakatobi. Foto istimewa

KOMPAS.com – Temuan paus sperma dalam keadaan mati baru-baru ini perlu menjadi perhatian banyak pihak. Meski belum dapat dipastikan apa penyebab kematiannya, namun banyak yang menuding pada sampah plastik 5,9 kilogram yang ditemukan dalam tubuh paus.

Melihat lokasi terdamparnya paus di Taman Nasional Perairan (TNP) Wakatobi, Anton Wijonarno selaku Manager Konsevasi Kawasan Laut untuk WWF Indonesia berkata bahwa hal tersebut adalah hal yang wajar. Pasalnya, lokasi tersebut adalah wilayah migrasi paus dan mamalia laut lain, seperti lumba-lumba.

Berdasarkan data monitoring Balai Konservasi Kawasan Perairan Nasional (BKKPN) Kupang tahun 2015 hingga 2017, wilayah perairan Nusa Tenggara Timur dan TNP Sawu merupakan jalur migrasi utama mamalia laut mencari makan yang nantinya akan bermuara di Laut Banda dan sebaliknya.

Baca juga: Tak Hanya Paus Sperma di Wakatobi, Ikan di Pasar Juga Tercemar Plastik

Melihat lokasi TNP Wakatobi yang berada di antara keduanya, Anton memperkirakan bahwa paus tersebut berada dalam masa migrasi mencari makan dan Wakatobi menjadi lokasi persinggahan. Meski demikian, Anton menjelaskan belum ada data yang sahih tentang paus di Wakatobi.

“Data yang ada hanya di lintasan yang terdefinisi, untuk di Wakatobi hanya sighting (penampakan), jadi semua bisa terjadi, apakah dia melakukan perjalanan dari Banda ke Wakatobi lalu ke NTT atau sebaliknya,” jelasnya saat dihubungi Kompas.com melalui sambungan telepon pada Selasa (20/11/2018).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Ia pun belum dapat memastikan apakah sampah yang ditemukan di dalam tubuh paus merupakan sampah yang dikonsumsi di sekitaran perairan Wakatobi atau tidak, mengingat sifat paus yang selalu bermigrasi.

“Bisa saja dari tempat yang jauh karena paus itu kan migrasi, siapa tahu dia makan di suatu tempat kita kan enggak tau. Jadi, perlu dibedah untuk diketahui sampah plastik ini dari mana,” jelas Anton.

Baca juga: Teguran buat Kita, Paus yang Mati di Wakatobi Tercemar 5 Kg Plastik

Sayangnya, dengan keadaan paus yang sudah membusuk dan mengharuskannya untuk segera dikubur, tindak forensik untuk paus ini sulit dilakukan. Padahal, tindakan ini juga dapat mengungkap apa penyebab kematian paus tersebut.

“Alasannya dia mati, kita perlu lakukan forensiknyalah istilahnya. Tapi ketika kita ingin melakukan forensik, mayatnya sudah dipotong-potong, jadi istilahnya barang buktinya sudah tercemar, jadi kita tidak tahu apa penyebabnya. Tapi tiga hal yang terlihat jelas adalah sampah plastik, jalur migrasi paus, dan sampah di Wakatobi yang semakin banyak,” ungkap Anton.

Meski harus dikubur, rencananya tulang dari paus tersebut akan dijadikan spesimen di Akademi Komunitas Perikanan dan Kelautan Wakatobi.

Kondisi paus yang mati ini sangat memprihatinkan. Dalam perut paus tersebut, ditemukan sampah plastik berupa penutup galon, botol plastik, tali rafia, sobekan terpal, botol parfum, sandal jepit, kresek, piring plastik, gelas plastik, dan jaring.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Emisi Gas Rumah Kaca Mencapai Tingkat Rekor Tahun Lalu, Apa Dampaknya?

Fenomena
Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Kadal Berkembang Biak dengan 4 Cara Berbeda, Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Pertama Kalinya, Astronom Deteksi Planet di Luar Galaksi Bima Sakti

Fenomena
Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Serigala Jepang Kerabat Dekat Anjing Domestik, Studi Jelaskan

Fenomena
Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Cara Cegah Penyakit Khas Musim Hujan, dari DBD hingga Alergi Dingin

Kita
Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Begini Perjalanan Masuknya Virus Corona ke Dalam Tubuh sampai Merusak Organ

Oh Begitu
Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Mengapa Varian Delta Plus Lebih Mengkhawatirkan? Ini Penjelasannya

Oh Begitu
Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Terdeteksi Siklon Tropis Malou dan Bibit Siklon 99W, Ini Dampaknya di Indonesia

Oh Begitu
4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

4 Penyakit yang Berpotensi Meningkat Saat Musim Hujan

Oh Begitu
[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

[POPULER SAINS] Alasan Aktivitas Gempa Swarm Salatiga Harus Diwaspadai | Sinyal Misterius di Luar Angkasa

Oh Begitu
Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Vaksin Kombinasi Efektif Mencegah Covid-19, Studi Jelaskan

Oh Begitu
Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Dikira Pemakan Daging, Dinosaurus Ini Ternyata Herbivora Pemalu

Oh Begitu
Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Kenapa Matahari Berwarna Kuning dan Langit Berwarna Biru Saat Siang Hari?

Oh Begitu
Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Sinyal Misterius Diduga dari Alien, Ternyata Sinyal Radio Buatan

Fenomena
Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Tak Ada Kulkas, Begini Cara Manusia Purba Menyimpan Makanan

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.