Pemanasan Global Ancam “Kejantanan” Dunia Serangga

Kompas.com - 14/11/2018, 18:07 WIB
Ilustrasi pemanasan global rottadanaIlustrasi pemanasan global

KOMPAS.com – Rupanya, ada alasan penting mengapa testis manusia berada di luar tubuh. Ini bertujuan agar suhu sperma tetap enam hingga 10 derajat lebih dingin daripada suhu tubuh.

Pasalnya, kualitas sperma bisa merosot drastis bila terkena panas, seperti yang baru saja dibuktikan dalam oleh studi dalam Nature Communications.

Studi yang dipimpin oleh pakar ekologi evolusioner Matt Gage tersebut berargumen bahwa penurunan populasi serangga di seluruh dunia disebabkan oleh temperatur global yang lebih panas dari biasanya.

Argumen itu bukan muncul secara tiba-tiba. Para peneliti telah lama mengetahui bahwa panas bisa mempengaruhi kualitas sperma secara signifikan. Namun dalam studi baru ini, Gage mencoba untuk mengetahui pengaruh gelombang panas pada reproduksi serangga.

Baca juga: 75 Persen Serangga di Jerman Turun, Ini Pelajarannya untuk Kita

Bersama dengan timnya, Gage mensimulasikan gelombang panas dengan menaikkan suhu laboratorium mereka selama lima hari sebanyak 5-7 derajat celcius atau setara dengan kenaikan suhu pada musim panas. Subjek penelitiannya adalah kumbang beras yang biasanya hidup pada suhu 35 derajat celcius.

Usai paparan gelombang panas, kumbang beras ditemukan mengalami penurunan produksi sperma hingga setengah. Ketika mereka dipaparkan pada gelombang panas untuk kedua kalinya, kumbang beras menjadi nyaris mandul.

Namun, dampak gelombang panas tidak hanya memengaruhi kemampuan reproduksi pejantan. Tingkat fertilitas kumbang beras betina pun ikut turun sebanyak 30 persen setelah diinseminasi dan dipaparkan pada gelombang panas.

Baca juga: Benarkah Pilihan Jenis Celana Dalam dapat Pengaruhi Kualitas Sperma?

Artinya, panas tidak hanya mempengaruhi produksi sperma pada kumbang beras, tetapi juga kelangsungannya ketika sudah berada di tubuh betina.

Efek ini terus berlanjut ke generasi berikutnya. Gage dan tim menemukan bahwa anak-anak jantan dari kumbang beras yang mengalami gelombang panas juga menghasilkan 20 persen lebih sedikit keturunan dibandingkan anak-anak kumbang beras yang tidak terpapar gelombang panas.

Kepada New York Times, Gage pun berkata bahwa dia tidak tahu dengan pasti apakah efek gelombang panas ada pada tahap DNA sehingga tidak bisa diperbaiki. Itu adalah subjek yang harus diteliti lebih lanjut.

Selain itu, Gage juga mengungkapkan bahwa dia tertarik untuk mempelajari hal ini pada lingkungan non-laboratorium yang lebih natural dan pada serangga yang hidup di iklim lebih dingin.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X