Misteri Tubuh Manusia, Bagaimana Otak Mengingat Nomor Telepon? - Kompas.com

Misteri Tubuh Manusia, Bagaimana Otak Mengingat Nomor Telepon?

Kompas.com - 09/11/2018, 20:02 WIB
Manusia daat mengontrol kenangan dan pemikiran dalam otak. Manusia daat mengontrol kenangan dan pemikiran dalam otak.


KOMPAS.com - Bayangkan Anda dalam keadaan mendesak, harus menghubungi seseorang, tapi daya handphone lemah. Anda hanya memiliki sedikit waktu untuk mengingat nomor teleponnya.

Saat seperti ini, hal yang dibutuhkan otak adalah memori kerja atau working memory. Ini merupakan sistem otak yang sangat bisa diandalkan untuk mengingat informasi penting untuk sementara.

Menurut neurolog atau ahli saraf Earl Miller dari MIT Picower Institute for Learning and Memory dan Christos Constantinidis di Wake Forest School of Medicine, memori kerja merupakan isi pikiran kita dan komponen inti dari fungsi kognitif yang berperan dalam perencanaan, bahasa, dan kecerdasan.

Keduanya sepakat bahwa memori kerja sangat penting untuk semua hal yang dilakukan otak. Seseorang yang memiliki masalah pada memori kerja sangat mungkin mengalami masalah gangguan otak seperti autisme dan skizofrenia.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Alasan Payudara Kiri Lebih Besar daripada Kanan

Meski begitu, tentang bagaimana memori kerja melakukan tugasnya masih diperdebatkan oleh para ahli, terutama Miller dan Constantinidis.

Pro kontra para ahli

Dilansir NPR, Minggu (4/11/2018), keduanya menyajikan bukti yang dapat menguatkan hipotesis masing-masing dalam pertemuan Society for Neuroscience di San Diego pekan lalu.

Constantinidis mendukung apa yang disebut model memori kerja standar, model yang telah ada selama beberapa dekade.

Ia mengatakan, saat kita ingin menyimpan informasi baru dan penting seperti nomor telepon, neuron di bagian depan otak akan terus menembak dan bekerja sangat aktif.

"Dan ini adalah aktivitas yang terus-menerus dari neuron di korteks prefrontal yang memungkinkan Anda untuk mempertahankan informasi dalam memori," kata Constantinidis.

Bila neuron berhenti bekerja, maka informasi tersebut dapat hilang sepenuhnya.

Namun, gagasan ini langsung dibantah Miller. Ia berkata bahwa memori kerja tidak sesederhana itu.

Tim Miller menggunakan teknologi terbaru untuk mempelajari kelompok neuron dalam memori kerja. Mereka menemukan, tembakan yang dilakukan neuron tidak dilakukan terus menerus, tetapi hanya singkat dan terkoordinasi.

"Ini mungkin terdengar biasa saja, tapi implikasi fungsionalnya sangat besar," tegas Miller.

Salah satu implikasinya, otak harus memiliki banyak cara untuk mempertahankan informasi dalam memori kerja selama aktivitas neuron bekerja aktif.

Hipotesis Miller, neuron dalam memori kerja berkomunikasi dengan bagian otak yang lain, termasuk jaringan yang terlibat dalam memori jangka panjang.

Memori kerja melakukan komunikasi itu dengan menembakkan neuron bersama-sama pada frekuensi tertentu, yang meninggalkan "kesan" sementara dari informasi dalam jaringan luas sel-sel otak.

Model Miller akan memungkinkan informasi dari memori yang bekerja untuk disimpan dalam bentuk laten, seperti memori jangka panjang disimpan. Dan itu bisa menjelaskan bagaimana kita dapat mengingat nomor telepon.

"Jika Anda menjatuhkan kopi saat sedang menelepon, aktivitas di otak akan beralih ke kopi yang jatuh. Dan karena ingatan ini disimpan dalam bentuk laten, mereka dapat diaktifkan kembali," terangnya.

Jika memori kerja benar-benar berinteraksi dengan bagian lain otak, itu bisa menjelaskan bagaimana area yang terlibat dalam perencanaan dan pengambilan keputusan dapat mengontrol informasi apa yang tetap dalam memori kerja dan apa yang dihapus.

"Ini membuka teka-teki paling sulit. Namun pertanyaan paling menarik tentang memori kerja adalah bagaimana caranya kita mengendalikan pikiran kita sendiri?" tanya Miller.

Baca juga: Misteri Tubuh Manusia, Kenapa Sisi Kiri Wajah Lebih Bagus buat Selfie?

Constantinidis mengakui, model memori kerja yang dikembangkan Miller sangat menarik dengan dasar teoritis sekaligus dapat menjelaskan beberapa hal yang sulit dijelaskan model standar.

"Masalahnya, sejauh ini belum ada bukti eksperimental yang menghubungkan variabel kritis dengan perilaku manusia," kata Constantinidis.

Constantinidis memberi contoh, percobaan laboratorium menunjukkan bahwa jumlah penembakan berirama yang terjadi tampaknya tidak banyak berpengaruh pada kinerja memori yang bekerja.

Juga pendapat Miller bahwa memori kerja terkait dengan memori jangka panjang tampaknya bertentangan dengan pengalaman dokter dengan pasien yang otaknya telah terluka, Constantinidis mengatakan.

"Kami memiliki kasus klinis pasien untuk siapa memori kerja sangat terganggu dan memori jangka panjang mereka masih utuh," katanya.

Jadi untuk saat ini, Constantinidis tetap teguh pada pendiriannya dengan model standar. Namun, dia tetap menerima pandangan yang disampaikan Miller.

"Sebagai ilmuwan itulah yang kami lakukan," katanya. "Kami mencoba menggali suatu masalah dengan beragam teori dan itu menyenangkan," imbuhnya.

Meski belum jelas bagaimana memori kerja melakukan tugasnya, semakin banyak eksperimen yang dilakukan para ahli saraf akan semakin menunjukkan kebenarannya.



Close Ads X