Mengenal "Decompression Sickness", Risiko yang Dialami Para Penyelam

Kompas.com - 03/11/2018, 19:33 WIB
Pasukan Intai Amfibi, Denjaka, tim investigator dari KNKT Indonesia, Singapuran, serta tim ahli Boeing memeriksa lokasi yang diduga terdapat Cocpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Sabtu (3/11/2018). KOMPAS.com/DAVID PURBAPasukan Intai Amfibi, Denjaka, tim investigator dari KNKT Indonesia, Singapuran, serta tim ahli Boeing memeriksa lokasi yang diduga terdapat Cocpit Voice Recorder (CVR) Lion Air JT 610, di perairan Tanjung Karawang, Sabtu (3/11/2018).

KOMPAS.com - Salah seorang penyelam yang menjadi evakuator pesawat Lion Air JT 610 dikabarkan meninggal dunia.

Dilansir dari Antaranews, Sabtu (03/11/2018), Komandan Satuan Tugas SAR Kolonel Laut Isswarto menyebut penyelam bernama Syachrul Anto itu meninggal karena decompression sickness atau penyakit dekompresi.

Dekompresi atau juga dikenal sebagai barotrauma adalah masalah medis yang timbul dari efek transisi cepat dari lingkungan bertekanan tinggi ke tekanan lebih rendah. Hal ini tidak hanya berisiko pada penyelam saja, tapi juga pada pekerja udara terkompresi, astronot, dan penerbang.

Untuk kasus Syachrul, tekanan air lebih berat daripada udara. Dilansir dari Encyclopaedia Britannica, ketika kita turun ke air, tekanan eksternal meningkat secara proposional dengan kedalamannya.

Padahal, udara terkompresi yang dihirup sama dengan tekanan air di sekitarnya.

Artinya, semakin lama atau dalam seseorang menyelam maka semakin banyak gas terkompresi yang diserap tubuh.

Komponen utama udara yang menyebabkan dekompresi adalah nitrogen. Berbeda dengan oksigen yang diserap oleh sel-sel tubuh, nitrogen hanya bisa terakumulasi dalam tubuh hingga jaringan jenuh pada tekanan lingkungan tertentu.

Baru ketika tekanan menurun, kelebihan nitrogen ini dilepaskan.

Namun perlu digarisbawahi, ketika penyelam terlalu cepat naik ke permukaan, perubahan tekanan yang mendadak inilah yang menyebabkan penyakit dekompresi.

Dalam makalah yang diterbitkan di Hawaii Journal of Medicine and Public Health tahun 2014 menyebut, meski teknologi penyelaman telah berkembang tapi penyakit dekompresi masih sering ditemukan.

Baca juga: Begini Kerja Tim Penyelam di Thailand untuk Selamatkan 8 Remaja

Selama terjadinya dekompresi, ada pembebasan gelembung-gelembung gas nitrogen dalam jaringan atau darah. Gejala ini sering hilang dengan sendirinya.

Namun, pada situasi tertentu, gelembung gas ini bisa menyebabkan kematian atau kerusakan neurologis permanen.

"Itu karena gelembung gas bisa menyebabkan efek mekanik langsung seperti distorsi jaringan atau gangguan, atau iskemia dengan memblokir pembuluh darah atau meningkatkan tekanan jaringan yang merusak perfusi," tulis Jenifer Hall, penulis laporan tersebut.

Keparahan penyakit dekompresi ini ditentukan oleh banyaknya gas yang terserap oleh tubuh.

"Ada faktor risiko yang mapan yang dapat mempengaruhi penyelam untuk mengembangkan penyakit dekompresi," tulis Hall.

Kurangnya kebugaran fisik, peningkatan usia, obesitas, dehidrasi, cedera fisik, penggunaan alkohol selama menyelam, penyelaman berulang, dan kedalaman menyelam adalah beberapa faktor risiko yang dapat menyebabkan insiden DCS yang lebih tinggi.

"Hasil terbaik setelah menyelam berada dalam individu yang fit secara fisik yang terhidrasi dengan baik dan yang mengikuti tabel menyelam atau komputer selam tanpa memaksakan batas," tegas Hall.

Meski telah mematuhi aturan-aturan tersebut pun, bukan berarti risiko penyakit dekompresi hilang begitu saja. Terutama jika keadaan tubuh penyelam tidak berada dalam kondisi benar-benar fit.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X