Beli Uang Mainan dengan Uang Asli, Kenapa Dulu Kita Melakukan Ini?

Kompas.com - 23/10/2018, 18:45 WIB
Banyak calo yang melakukan transaksi penukaran uang rupiah keluaran tahun emisi 2016 AUZI AMAZIA/KOMPAS.comBanyak calo yang melakukan transaksi penukaran uang rupiah keluaran tahun emisi 2016

KOMPAS.com – Salah satu perilaku yang membuat orangtua geleng-geleng kepala adalah ketika anaknya membeli uang mainan dengan uang asli. Hal ini pun mungkin pernah Anda lakukan dulu saat masa kanak-kanak, dan kini Anda sesali.

Di era modern ini, popularitas uang mainan rupanya masih sama seperti dulu. Bedanya bila dulu hanya dijual oleh pedagang mainan keliling, kini uang mainan bisa dibeli secara online dan diakses oleh lebih banyak anak-anak di Indonesia.

Hal ini menimbulkan pertanyaan, mengapa anak-anak pada zaman apa pun mau membeli uang mainan dengan uang asli? Apakah mereka masih belum mengerti konsep nilai pada uang?

Untuk menjawab kedua pertanyaan tersebut, Kompas.com menghubungi Astrid Wen, seorang Psikolog Anak & Keluarga, serta Theraplay Practitioner dari Pion Clinician, melalui pesan singkat pada Selasa (23/10/2018).

Baca juga: Penemuan yang Mengubah Dunia: Uang, Sejak Kapan Digunakan?

Dalam memahami hal ini, rupanya orangtua harus mengetahui konsep bermain peran. Bermain peran adalah ketika seseorang pada segala usia bermain pura-pura, misalnya menjadi pedagang dan pembeli atau bermain monopoli.

Meski demikian, tindakan membeli uang mainan bukanlah bagian dari bermain peran. Anak-anak membeli uang mainan itu mungkin karena tertarik oleh jumlahnya yang lebih banyak dan bentuknya yang berwarna-warni.

Baru ketika uang itu digunakan untuk pura-pura menjadi pedaganglah, uang mainan menjadi bagian dari bermain peran.

Nah, tindakan membeli uang mainan itu sendiri, ujar Astrid, disebabkan oleh belum mengertinya anak akan konsep nilai uang.

Baca juga: Berapa Banyak Uang yang Dibutuhkan untuk Bahagia? Sains Menjawabnya

Sejak usia tiga tahun, anak sudah bisa mengerti bahwa uang bisa digunakan untuk membeli barang. Akan tetapi, mereka belum tentu bisa memahami bahwa uang Rp 5.000 itu lebih besar dari uang Rp 2.000, bahkan ketika sudah duduk di sekolah dasar.

“Dia mungkin tahu untuk beli satu kue pakai uang yang bentuknya seperti Rp 2000, tapi dia enggak tahu cara belinya kalau pakai Rp 5000,” ujarnya.

Astrid berkata bahwa kemampuan kognitif anak untuk bisa mengerti nilai uang baru cukup berkembang pada usia sembilan hingga 10 tahun.

Lalu pada usia 11 tahun, anak mulai mengembangkan konsep berpikir abstrak yang digunakannya untuk memahami konsep ATM, cashless, dan lain sebagainya.

Meski demikian, bukan berarti anak dilarang menggunakan uang saat belum cukup usianya

Usia anak yang masih kecil adalah momen yang tepat bagi orangtua untuk membentuk kebiasaannya menggunakan uang, misalnya mengajari anak untuk menabung, membeli satu saja yang dipakai daripada membeli semua yang tidak dibutuhkan, atau untuk tidak langsung membeli es krim ketika menginginkannya.

“Walaupun belum mengerti nilai (uang), tapi kebiasaan menyisihkan uang dan membagi menjadi beberapa kategori sudah bisa dilakukan waktu sekolah dasar,” tutup Astrid.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X