Kompas.com - 16/10/2018, 17:36 WIB

KOMPAS.com - Untuk kali pertamanya, para peneliti berhasil memberikan gambaran seberapa banyak wajah yang bisa diingat oleh manusia dalam kehidupan mereka.

Studi yang dilakukan peneliti dari University of York mengungkapkan hasil yang menakjubkan. Kita ternyata memiliki kemampuan untuk mengenali wajah hingga 5.000 orang.

Temuan ini berdasarkan penelitian yang melibatkan 25 orang peserta dengan rentang usia 18 tahun hingga 61 tahun.

Baca juga: Teknologi Pengenalan Wajah Bantu Temukan Ribuan Anak Hilang di India

Peneliti menguji kemampuan peserta untuk mengenali wajah orang-orang yang mereka kenal secara pribadi serta wajah orang-orang terkenal. Mereka diminta membuat daftar orang-orang tersebut tanpa harus melampirkan nama. Sebab, penamaan merupakan hal yang terpisah dengan pengenalan secara visual.

Hasilnya, jelas kemampuan pengenalan wajah sangat bervariasi antara individu. Beberapa orang dapat mengingat sedikitnya 1.000 orang wajah dan beberapa lainnya bisa mencapai 10.000 wajah. Namun rata-rata peserta dapat mengidentifikasi hingga 5.000 wajah yang mereka kenal.

Meski begitu, memang ada suatu kondisi tertentu yang disebut prosopagnosia, juga dikenal sebagai kebutaan wajah. Kondisi ini menghalangi seseorang mengenali wajah dan dapat mempengaruhi jutaan orang.

Studi ini juga menunjukkan bahwa mekanisme yang memungkinkan orang untuk mengenali wajah dapat bervariasi antar budaya, seperti pada kasus kebutaan wajah yang cenderung terjadi lebih tinggi ketika seseorang melihat wajah dari ras lain.

Baca juga: Perempuan Pemimpin dengan Rias Wajah Berlebih Dinilai Lemah

Penelitian lanjutan juga perlu dilakukan untuk mengetahui apakah usia berperan dalam kapasitas mengingat wajah.

"Akan menarik apakah ada batasan umur bagi kita untuk mengingat jumlah wajah yang kita kenal," kata Rob Jenkins, psikolog dan ilmuwan kognitif di Departemen Psikologi University of York di Inggris.

"Tapi, hingga kini kami belum menemukan batasan serta berapa banyak wajah yang bisa diingat di otak," tambahnya seperti dikutip dari Live Science, Senin (15/10/2018).

Penelitian ini dipublikasikan online (10/10/2018) di jurnal Proceedings of the Royal Society B : Biological Sciences.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.