Telepati Bukan Lagi Angan-angan, Ilmuwan Hubungkan Pikiran 3 Manusia - Kompas.com

Telepati Bukan Lagi Angan-angan, Ilmuwan Hubungkan Pikiran 3 Manusia

Kompas.com - 12/10/2018, 17:35 WIB
IlustrasiShutterstock Ilustrasi

KOMPAS.com - Pernahkah Anda membayangkan bisa mengungkapkan pikiran kepada orang lain tanpa berbicara? Rasanya kemampuan yang lazim disebut telepati ini sulit dilakukan.

Namun, para ahli saraf dari University of Washington and Carnegie Mellon University berhasil menghubungkan koneksi otak tiga arah yang memungkinkan tiga orang berbagi pikiran yang sama.

"Telepati" ini dilakukan dalam sistem baru yang dinamai BrainNet dan dicobakan pada permainan Tetris.

Sistem tersebut menggunakan kombinasi electroencephalograms (EEGs) untuk merekam impuls listrik yang mengindikasikan aktivitas otak, dan stimulasi magnetik transkranial (TMS), di mana neuron dirangsang menggunakan medan magnet.

"Kami menyajikan BrainNet yang, sepengetahuan kami, adalah antarmuka otak-ke-otak langsung non-invasif pertama untuk memecahkan masalah secara kolaboratif," tulis para peneliti dalam laporan mereka di jurnal pracetak arXiv dikutip dari Science Alert, Selasa (02/10/2018).

"Antarmuka ini memungkinkan tiga subyek manusia untuk berkolaborasi dan menyelesaikan tugas menggunakan komunikasi otak-ke-otak secara langsung," imbuh mereka.

Dalam percobaan ini, para ilmuwan meminta dua "pengirim" yang terhubung pada elektroda EEG memainkan permainan Tetris. Mereka harus memutuskan apakah setiap blok perlu diputar atau tidak.

Untuk itu, mereka diminta menatap salah satu dari dua LED yang berkedip di kedua sisi layar. Masing-masing LED bekedip dalam kekuatan gelombang 15 dan 17 Hz.

Gelombang tersebut menghasilkan sinyal berbeda di otak yang bisa ditangkap oleh alat EEG.

Baca juga: Tak Hanya Rahasia, Anda Juga Berbagi Gelombang Otak dengan Sahabat

Selanjutnya, sinyal ini diteruskan pada "penerima" tunggal melalui topi TMS. Alat tersebut memberikan kilatan cahaya sama dalam pikiran penerima yang disebut fosfen.

Eksperimen ini dilakukan pada lima kelompok berbeda. Hasilnya, tingkat akurasinya mencapai angka rata-rata 81,25 persen.

Tak puas dengan percobaan pertama, peneliti menambah kerumitan dalam eksperimen kedua. Mereka menambahkan umpan balik yang menunjukkan apakah penerima melakukan keputusan yang benar dari pengirim.

Hasil dari percobaan kedua ini adalah penerima mampu mendeteksi pengirim mana yang paling dapat diandalkan berdasarkan komunikasi otak saja.

Menurut para peneliti, hal ini menjanjikan pengembangan sistem yang menangani skenario dunia nyata di mana manusia tidak dapat diandalkan akan menjadi faktor.

Ini membuat tim tersebut berpikir bahwa sistem buatan mereka bisa ditingkatkan dan menghubungkan seluruh jaringan manusia.

Artinya, jaringan ini nantinya bisa menghubungkan banyak pikiran secara bersamaan.

"Hasil kami meningkatkan kemungkinan antarmuka otak-ke-otak di masa depan yang memungkinkan pemecahan masalah kooperatif oleh manusia menggunakan 'jaringan sosial' otak yang terhubung," tulis tim itu.

Sebelumnya, tim peneliti yang sama juga telah mampu menghubungkan dua otak dengan sukses. Untuk itu, mereka terus berusaha mengembangkan sistem baru buatan mereka.



Close Ads X