Kompas.com - 08/10/2018, 17:30 WIB
Fenomena Likuefaksi KOMPAS.com/Akbar Bhayu TamtomoFenomena Likuefaksi

KOMPAS.com - Gempa dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, pada Jumat (28/9/2018) petang hingga kini telah merenggut 1.948 jiwa. 

Pergeseran lempeng dengan magnitudo 7,4 itu menyebabkan pencairan tanah yang secara ilmiah disebut likuefaksi.

Peneliti dari Pusat Penelitian Geoteknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Danny Hilman mengatakan, likuefaksi terjadi karena keadaan tanah yang tidak padat. Akibat gempa, air yang berada di dalam tanah naik dan bercampur dengan tanah.

Dalam pemberitaan-pemberitaan gempa, likuefaksi mengundang perdebatan, bukan cuma soal fenomenanya tetapi juga bahasa.

 Jika mengacu pada anjuran ahli Search Engine Optimization (SEO), kata yang sebaiknya dipakai adalah likuifaksi. Alasannya, kata likuifaksi paling banyak dipakai berbagai kalangan dan juga paling banyak dicari orang di mesin pencari dibandingkan kata likuefaksi.

Namun, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang benar adalah likuefaksi. Kami di Kompas.com memutuskan menggunakan kata tersebut.

Mengapa? Begini penalarannya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kata likuefaksi merupakan adopsi dari kata liquefaction. Liquefaction merupakan kosakata bahasa Inggris dan kata turunan dari liquefy (verb/verba [Latin: liquefacere]) yang artinya menjadi/membuat atau menjadikan cair (liquid).

Liquefy mempunyai beberapa kata turunan, antara lain liquefaction untuk kategori nomina seperti telah disebutkan, ataupun liquefactive untuk kata sifatnya.

Baca juga: Wilayah Petobo Terdampak Likuefaksi Capai 180 Hektar

Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) memasukkan lema likuefaksi ini. KBBI mengartikan likuefaksi sebagai fenomena hilangnya kekuatan lapisan tanah akibat beban getaran gempa. Lema ini berkategori nomina atau kata benda.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.