Kompas.com - 05/10/2018, 12:34 WIB
Peta zona bahaya likuefaksi daerah Palu Peta zona bahaya likuefaksi daerah Palu

KOMPAS.com — Kawasan Palu yang rawan likuefaksi sudah dikaji. Badan Geologi menerbitkan hasil kajian itu pada tahun 2012.

Berdasarkan peta hasil kajian, wilayah dekat pantai di teluk Palu ternyata punya potensi tinggi untuk mengalami likuefaksi.

Berdasarkan peta itu pula, Bandara Mutiara SIS Al Jufri yang tak jauh dari Petobo  juga berada di zona potensi likuefaksi sangat tinggi.

Inilah yang menyebabkan sebagian besar wilayah kota Palu rawan terhadap likuefaksi. Potensi bahayanya bahkan hampir ada di seluruh wilayah.

Adrin Tohari, peneliti bidang Geoteknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), mengatakan, daerah yang sudah pernah mengalami likuifaksi tetap berpotensi mengalami likuifaksi pada masa mendatang jika terkena goncangan yang besar.

Ini karena tanah pasir likuefaksi tidak akan memadat dan kokoh seperti sedia kala.

"Tanah pasir itu akan tetap gembur karena ia tidak memiliki daya rekat," kata Adrin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Baca juga: Petaka di Petobo adalah Likuefaksi Paling Dahsyat, Ini Alasannya

2 Pilihan

Untuk tindak lanjut pascalikuefaksi, Adrin menyarankan agar hindari area likuefaksi dan merelokasi masyarakat ke daerah yang lebih aman. Misalnya, tanah yang memiliki daya rekat tinggi atau ke daerah perbukitan di mana tanahnya tersusun dari batuan.

"(Area) yang di Petobo, itu tidak bisa lagi menjadi daerah hunian. Karena untuk menanggulanginya akan membutuhkan biaya yang sangat mahal," ujarnya.

Salah satu cara yang bisa dilakukan untuk membuat tanah rawan likuefaksi menjadi padat adalah dengan menyuntikkan semen untuk mengikat butiran-butiran pasir. Namun, biayanya sangat mahal.

Semakin dalam dan tebal lapisan tanah yang gembur, maka semakin besar biaya yang dibutuhkan.

Hal yang sama pun dikatakan Rovicky Dwi Putrohari, ahli geologi dan anggota Ikatan Ahli Geologi Indonesia (IAGI).

Menurutnya, penanganan area rawan likuefaksi juga bisa dilakukan dengan drainasi atau menyedot air tanah keluar agar membuat tanah menjadi batu dan termampatkan.

"Tapi, cara ini menjadi kontradiksi karena kita membutuhkan air untuk hidup. Secara teknis memungkinkan, hanya soal biaya dan konsekuensinya tidak mudah dijawab," kata Rovicky kepada Kompas.com, Rabu (3/10/2018).

Rovicky pun menambahkan, bila daerah yang terkena likuifaksi merupakan tanah miring, nantinya kawasan tersebut akan rawan longsor.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.