Kompas.com - 03/10/2018, 20:20 WIB
Presiden Jokowi saat mendatangi lahan lapang yang dulunya adalah komplek perumahan di Petobo, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10/2018). Komplek perumahan itu habis tertimbun lumpur akibat adanya likuefaksi pasca gempa hebat di kota Palu. KOMPAS.com/FABIAN JANUARIUS KUWADOPresiden Jokowi saat mendatangi lahan lapang yang dulunya adalah komplek perumahan di Petobo, Sulawesi Tengah, Rabu (3/10/2018). Komplek perumahan itu habis tertimbun lumpur akibat adanya likuefaksi pasca gempa hebat di kota Palu.

KOMPAS.com - Tak lama setelah Donggala diguncang gempa berkekuatan 7,4, sebuah video yang menunjukkan fenomena likuefaksi muncul di kelurahan Petobo, kabupaten Sigi, dekat perbatasan Palu.

Likuefaksi adalah fenomena di mana lapisan tanah berubah menjadi lumpur dan membuatnya kehilangan kekuatan.

Akibat fenomena ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ada 744 bangunan yang tenggelam ditelan lumpur. Selain bangunan, mobil dan tiang listrik pun ikut lenyap.

Kini, lumpur yang muncul akibat likuifaksi sudah mengering. Lalu, apa yang harus dilakukan setelah fenomena likuefaksi?

Baca juga: Viral Video Tanah Bergerak Pasca Gempa Donggala, Ini Penjelasan Ahli

Sebelum menjawab pertanyaan itu, Adrin Toharo seorang peneliti bidang Geoteknik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menerangkan fenomena likuefaksi bisa terjadi karena 4 syarat.

"Pertama, bila jenis tanah di suatu area berupa tanah pasir. Kedua, kondisi tanah tidak padat atau gembur. Ketiga, muka air tanah dangkal dan kedalamannya kurang dari 4 meter. Terakhir, terjadi guncangan gempa besar," papar Adrin dihubungi Kompas.com, Rabu (3/10/2018).

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Ketika ada guncangan, airnya terdorong ke atas dan menguraikan butiran-butiran pasir (menjadi lumpur). Lapisan tanah kehilangan daya dukung, kekuatan, makanya banyak bangunan yang ambles dan tenggelam. Ataupun kalau ada retakan, ia akan menyemprotkan air dan pasir," jelasnya.

Untuk memahami lebih jelas bagaimana likuefaksi terjadi, berikut video percobaan yang dibuat Illinois State Geological Survey:


Adrin juga mengatakan, daerah yang sudah pernah mengalami likuifaksi tetap berpotensi mengalami likuifaksi di masa mendatang, jika terkena goncangan yang besar. Ini karena tanah pasir likuifaksi tidak akan memadat dan kokoh seperti sedia kala.

"Tanah pasir itu akan tetap gembur karena ia tidak memiliki daya rekat," imbuhnya.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.