Kompas.com - 01/10/2018, 19:07 WIB

KOMPAS.com - Perubahan iklim mempengaruhi dunia kita dalam banyak cara, mulai dari kenaikan air laut hingga kepunahan spesies.

Namun sekarang, tim peneliti internasional kembali menambahkan lagi pengaruh perubahan iklim terhadap Bumi ini.

Perubahan iklim juga ternyata juga berdampak luas pada tanaman di daerah tundra di Arktik. Salah satunya dengan membuat tanaman di Arktik tumbuh lebih tinggi.

Tundra sendiri sebenarnya adalah ekosistem dingin tanpa pohon. Contohnya seperti di Arktik yang merupakan salah satu lingkungan paling keras di Bumi. Biasanya, wilayah ini tertutup salju hampir sepanjang tahun dan menjadi habitat bagi ratusan spesies semak, rumput dan tanaman perdu lain yang memainkan peran penting dalam siklus karbon Bumi.

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature menganalisis lebih dari 60.000 catatan karakter tanaman di seluruh lingkungan tundra di daerah Arktik dan Alpen.

Baca juga: Sekjen PBB Serukan Upaya Penanganan Perubahan Iklim

Tim peneliti menunjukkan bahwa tanaman di area tersebut tumbuh lebih tinggi selama 30 tahun terakhir akibat dari suhu yang memanas. Mereka juga menemukan bahwa spesies tanaman yang berukuran lebih tinggi bergerak dari wilayah selatan ke bagian yang lebih rendah.

Sweetgrass Vernal yang umum terdapat di Eropa dataran rendah, misalnya, kini berpindah ke daerah Islandia dan Swedia.

Secara signifikan, daerah tundra memanas lebih cepat daripada jenis lingkungan lainnya.

"Suhu di Arktik telah meningkat sekitar 1 derajat Celcius di Musim panas dan 1,5 derajat Celcius di musim dingin selama tiga dekade terakhir, merupakan tingkat tercepat pemanasan di planet ini," ujar Isla Myers-Smith, salah satu peneliti dari University of Edinburgh's School of GeoSciences.

Pemanasan juga terjadi di puncak pegunungan Alpen. Bersama-sama dengan Arktik, Alpen membentuk lingkungan atau biome tundra, wilayah vegetasi yang memiliki iklim dingin ektrim di bumi ini.

Adanya perubahan struktur dan komposisi tumbuhan ini akibat pemanasan pada akhirnya memiliki implikasi penting bagi tidak hanya untuk ekosistem tundra, tetapi juga untuk planet ini secara kesuluruhan.

"Tanaman Tundra tumbuh perlahan dan menyimpan karbon di bawah tanah. Kami berpikir bahwa sebanyak dua pertiga biomassa tanaman sebenarnya berada di bawah tanah ekosistem tundra. Ekosistem utara ini, di mana tanah beku sepanjang tahun juga diperkirakan mengandung sekitar sepertiga dari karbon tanah dunia,"jelas Myers-Smith

"Jika spesies tanaman berubah dan karakteristik dari tanaman bergeser, maka itu dapat mengubah cara karbon disimpan dalam ekosistem ini," tambahnya.

Baca juga: Peringatan dari Para Ilmuwan: Kita Tidak Siap untuk Perubahan Iklim

Sebagai contoh, jika tanaman semakin cepat tinggi di ekosistem ini penting karena tanaman dapat menempel di atas snockpack atau lapisan salju di musim dingin dan musim semi, yang membuat permukaan tundra lebih gelap," papar Myers-Smith.

Salju putih serta es memantulkan panas matahari, tetapi jika permukaan tundra menjadi lebih gelap ini bisa membantu menghangatkan ekosistme dingin serta mempercepat perubahan vegetasi.

Secara keseluruhan hal ini berpotensi menyebabkan peningkatan pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer, dan akibatnya mempercepat pemanasan global.

"Memahami bagaimana ekosistem tundra telah berubah akan membantu kita membuat prediksi yang lebih baik mengenai perubahan masa depan ketika iklim menghangat dan apa dampaknya bagi planet secara keseluruhan," pungkas Myers-Smith.

 

sumber https://www.newsweek.com/climate-change-pushing-plants-arctic-and-making-them-grow-taller-1141127

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Sumber Newsweek
Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Tikus Diduga Menjadi Inang Virus Langya di China, Ini Kata Peneliti

Oh Begitu
Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Vaksinasi Vs Infeksi, Mana yang Lebih Meningkatkan Antibodi Covid-19?

Oh Begitu
4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

4 Alasan Tubuh Perlu Istirahat dari Rutinitas Olahraga

Oh Begitu
Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Studi Sebut Benua Tercipta dari Meteorit Raksasa yang Tabrak Bumi

Oh Begitu
Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Kelapa Genjah, Kenali Karakteristik dan Varietasnya

Oh Begitu
Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fosil Tulang Mammoth di New Mexico Ungkap Pembantaian yang Dilakukan Manusia

Fenomena
Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Sero Survei Ungkap 98,5 Persen Penduduk Indonesia Memiliki Antibodi Covid-19

Oh Begitu
Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Peringatan Dini Gelombang Tinggi dari Sabang hingga Perairan Yogyakarta

Fenomena
6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

6 Dampak Perubahan Iklim pada Terumbu Karang

Fenomena
Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Jangan Lewatkan Puncak Hujan Meteor Perseid 13 Agustus, Begini Cara Menyaksikannya

Fenomena
98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

98,5 Persen Masyarakat Indonesia Miliki Antibodi Covid-19, Perlukah Vaksin Booster Kedua?

Fenomena
[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

[POPULER SAINS] BMKG Deteksi Siklon Tropis Mulan | Harta Karun di Kapal Karam | Fenomena Supermoon Sturgeon Moon | Vaksin Comirnaty Diizinkan untuk Anak 16-18 Tahun

Oh Begitu
BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

BRIN sebagai Ruang Kolektif Riset dan Inovasi Indonesia

Oh Begitu
WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

WMO Sebut Juli Jadi Bulan dengan Suhu Terpanas, Apa Dampaknya?

Fenomena
Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Bagaimana Mesin Ketik Pertama Kali Ditemukan? Ini Sejarahnya

Oh Begitu
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.