Ular-ular Setengah Manusia Nusantara yang Tak Kalah Seram dari Nagini

Kompas.com - 28/09/2018, 21:47 WIB
Pasangan dalam kisah pewayangan, Bima dan Nagagini. Bima adalah salah satu anggota Pandawa yang jatuh hati dengan Nagagini, putri Dewa Ular yang cantik jelita. Di saat tertentu, Nagagini atau yang dijuluki dewi ular dapat berubah wujud menjadi ular setengah manusia. Pasangan dalam kisah pewayangan, Bima dan Nagagini. Bima adalah salah satu anggota Pandawa yang jatuh hati dengan Nagagini, putri Dewa Ular yang cantik jelita. Di saat tertentu, Nagagini atau yang dijuluki dewi ular dapat berubah wujud menjadi ular setengah manusia.

KOMPAS.com - Fiksi Fantastic Beast garapan JK Rowling memnjadi perbincangan karena karakternya bersumber dari mitologi Indonesia. Sosok yang menginspirasi adalah Nagagini.

Budayawan mengungkapkan, Nagagini hanya salah satu tokoh mitologi nusantara yang sosoknya berupa ular. Dunia pewayangan juga memiliki lakon manusia setengah ular lain.

Sosok lain misalnya Hardawalika yang merupakan anak raja Gowa Barong dan dibunuh oleh Arjuna dalam perang Bharatayuda. Lalu Hyang Basuki atau Naga Basuki, dewa tampan yang dapat berubah wujud menjadi ular.

Hyang Basuki dikisahkan sebagai Bhatara baik hati dan simbol penjaga kekuatan air yang menjadi sumber kehidupan semua makhluk.

Hyang Basuki yang bersisikkan emas pada lakon Wahyu Purbasejati menjelma kepada Prabu Baladewa, raja Mandura sebagai bentuk balas budinya terhadap ayah Baladewa, yaitu Prabu Basudewa yang menyelamatkan Hyang Basuki dari penderitaan duka nestapa.

"Dari gender, Hyang Basuki merupakan maskulin, Hardawalika juga maskulin, sedangkan Nagagini memiliki sifat feminin," imbuh Darmoko.

Naga dalam kajian arkeologi

Menurut Profesor Agus Aris Munandar, Dosen Arkeologi dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, dalam kajian arkeologi klasik Naga dikenal sebagai selempang dada (upawita) Siwa Mahadewa, sebagai dewa tertinggi.

Kitab Adiparwa (Jilid 1 Mahabharata) Jawa Kuno, diuraikan adanya Anantaboga yang menjadi tali pengikat G. Mandara saat para dewa dan asura mengocok Samuderamanthana.

Kelahiran para Naga anak Bhagawan Wiswamitra dan Kadru diuraikan bersama kisah Garudeya (kelahiran Garuda).

Dalam kajian arkeologi, naga atau ular merupakan simbol dunia bawah dan garuda atau burung merupakan simbol dunia atas.

"Naga menjadi hiasan candi-candi masa Klasik Muda di Jawa Timur, terutama di Percandian Panataran, ada di candi-candi lainnya juga Naga berpasangan dengan Kepala Kala," ujar Agus.

"Jadi, naga dalam kebudayaan Jawa Kuno pada kajian arkeologi merupakan makhluk mitos selevel Garuda, hidup di dunia dewata. Naga adalah makhluk sakral hiasan dewa dan candi-candi," imbuh Agus.

Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di artikel ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini!


Dapatkan hadiah utama Smartphone setiap bulan dan Voucher Belanja setiap minggunya, dengan berkomentar di bawah ini! #JernihBerkomentar *Baca Syarat & Ketentuan di sini
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
komentar di artikel lainnya
Close Ads X