Dalam 15 Tahun, 130 Harimau Sumatera Terjerat dan Semuanya Mati

Kompas.com - 28/09/2018, 07:30 WIB
Seekor anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) terperangkap dalam kerangkeng yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di hutan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Minggu (15/4). BKSDA setempat menunda mengevakuasi harimau sumatra betina berumur kurang dari dua tahun tersebut karena adanya dua ekor harimau yang berkeliaran serta untuk menghindari konflik antara masyarakat dengan satwa dilindungi itu. ANTARA FOTO/Muhammad Arif PribadiSeekor anak harimau sumatra (Panthera tigris sumatrae) terperangkap dalam kerangkeng yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumbar di hutan Palupuh, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, Minggu (15/4). BKSDA setempat menunda mengevakuasi harimau sumatra betina berumur kurang dari dua tahun tersebut karena adanya dua ekor harimau yang berkeliaran serta untuk menghindari konflik antara masyarakat dengan satwa dilindungi itu.

KOMPAS.com – Populasi  harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) kini tinggal ratusan, 600 tepatnya dengan skenario optimistis. Mirisnya, kematian spesies ikonik itu dalam kurun waktu 15 tahun juga mencapai ratusan.

Sekretaris Jenderal Forum Harimau Kita, Erlinda C Kartika, menguraikan bahwa berdasarkan data, ada 1065 kasus konflik manusia dengan harimau Sumatera antara tahun 2001 hingga 2016.

Dari jumlah tersebut, konflik terbanyak adalah harimau yang melintas di pemukiman (375 kejadian) dan harimau yang memangsa ternak (376 insiden). Sementara konflik dalam bentuk harimau menyerang manusia sebanyak 184 insiden.

Kasus harimau terkena jerat memang lebih sedikit tetapi akibatnya fatal. “Dari 130 harimau yang terkena jerat, semuanya mati,” ungkap Erlinda saat dihubungi Kompas.com pada Kamis (27/9/2018).

Munawar Kholis, Ketua Forum Harimau Kita, mengatakan bahwa kasus harimau bunting mati akibat jerat di Suaka Margasatwa Rimba Baling, Kuansing, Riau, menambah kasus konflik yang berakhir memilukan.

Sunarto, ahli ekologi satwa liar dari WWF Indonesia mengungkapkan, konflik harimau dan kematian akibat jerat adalah fenomena gunung es. Jumlah kasus yang sebenarnya mungkin saja lebih besar tetapi tidak terekspos.

"Yang kita temukan itu kan hanya jerat yang masih aktif. Tapi berapa banyak jerat yang mematikan harimau yang langsung dibunuh dan diperdagangkan pemburu? Saya kira ini jauh lebih banyak,” jelas Sunarto.

Pemasang jerat, jika tertangkap, biasanya akan berdalih memasang jerat untuk memerangkap satwa yang menjadi hama pertanian. Padahal, jerat itu memang berfungsi untuk menjerat satwa liar untuk diperdagangkan.

Karena dalih itu sering dipakai, Sunarto menyarankan, "Metode atau alat untuk pengendalian hama pertanian harus diatur lebih detil sehingga tindakan kematian harimau dapat dicegah lebih dini."

 

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X